31 C
Kudus
Rabu, Januari 28, 2026

Babahe Luncurkan Buku Bapak Pucung Gaul, Macapat Berbahasa Indonesia

BETANEWS.ID, SEMARANG – Seniman sekaligus penulis Kota Semarang, Widyo Leksono, yang dikenal dengan panggilan Babahe kembali meluncurkan buku. Setelah sebelumnya mengeluarkan beberapa judul buku seperti Blakotangan, Krimuning, atau Wong Jowo Angel Wangsulan Ora/Dilema Monolog dan Bahasa yang Riang, kali ini ia merilis karya berjudul Bapak Pucung Gaul. Buku ini berisi tembang-tembang macapat bapak pucung karangan Babahe yang ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Pucung adalah salah satu jenis tembang macapat yang di pendidikan formal sudah dikenalkan sejak sekolah dasar dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Dalam pengantar bukunya, Babahe menjelaskan salah satu bentuk tembang pucung yang dikenal anak-anak adalah bapak pucung. Tembang ini disukai anak-anak karena isinya yang ringan dan dibalut dengan tebakan.

Buku Bapak Pucung Gaul karya Widyo Leksono dilaunching di joglo Dewan Kesenian Semarang (Dekase), Minggu (19/2/2023) malam. Foto: Tomy Yunius

Sayangnya di masa sekarang, menurut Babahe, Bapak Pucung terlebih tembang-tembang macapat lainnya sudah tidak lekat dengan anak-anak. Oleh karenanya, pria yang berkecimpung dalam seni dan sastra Jawa ini tergelitik untuk membuat tembang-tembang Bapak Pucung dengan Bahasa Indonesia, yang kemudian dilabeli gaul.

-Advertisement-

Baca juga: Berkat Sajak Sikat Gigi, Gus Mus Jadi Berani Menulis Puisi

Dengan label gaul dan konsep macapat berbahasa Indonesia ini, Babahe ingin mengembalikan kedekatan tembang macapat, termasuk Bapak Pucung, dengan anak-anak sekarang. Selain itu, Babahe menginginkan buku Bapak Pucung Gaul ini bisa memiliki daya tarik tersendiri bagi pembacanya. Memang, Babahe mengakui, tembang pucung yang lazimnya dikenal berbahasa Jawa, akan terdengar asing dan lucu bagi yang sebelumnya mengerti tentang sastra Jawa.

“Ya itu teman saya yang itu, waktu saya bikin dan nembang bapak pucung bahasa Indonesia, dia ketawa nggak berhenti,” ungkap Babahe menceritakan teman menulisnya saat launching buku di joglo Dewan Kesenian Semarang (Dekase), Minggu (19/2/2023) malam.

Meski melakukan terobosan baru, Babahe tetap membuat tembang-tembang bapak pucungnya dengan tata penulisan lazimnya tembang macapat. Aturan penulisan pucung tersebut seperti susunan kalimat yang terdiri dari 4 baris. Pada baris pertamanya terdiri dari 12 suku kata dengan rima U. Di baris ke dua terdiri dari 6 suku kata dengan rima A. Sementara di baris ke tiga terdiri dari 8 suku kata dengan rima I. Sedangkan di baris ke empat terdiri dari 12 suku kata dengan rima A.

Baca juga: Potret Persoalan Pesisir Lewat Karya Seni

Bapak Pucung Gaul cetakan pertama, Februari 2023 ini diterbitkan oleh penerbit Buku Halah dengan pracetak oleh Adhitia Armitrianto. Babahe menyertakan ilustrasi gambar pada setiap lembar bukunya yang merupakan karya Kartika, Namex, Rico Pangestu, Avilla, Yosi, dan Allart.

Babahe memaknai peluncuran bukunya untuk menyambut Hari Bahasa Ibu yang jatuh pada 21 Februari ini. Babahe berharap agar bahasa daerah dapat kembali memasyarakat, terutama di generasi muda yang saat ini cenderung meninggalkan bahasa daerahnya sebagai bahasa ibu.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER