BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan emak-emak terlihat terampil memproduksi rokok klobot di PT Sukun Wartono Indonesia. Jemari mereka tampak cekatan mengambil satu lembar klobot yang sudah dipotong sesuai ukuran. Klobot itu kemudian diberi irisan tembakau yang sudah dicampur dengan cengkeh. Setelah itu dilinting menggunakan jari dan tanpa alat.
Berbeda dengan rokok pada umumnya yang perekatnya menggunakan lem. Perekat rokok klobot Sukun diikat beberapa bagian menggunakan tali berwarna biru agar lintingannya tidak ambyar.
Rokok klobot yang sudah dilinting dan diikat itu kemudian dirapikan oleh buruh lainnya yang duduk di sebelahnya. Kedua ujung batang rokok dirapikan menggunakan gunting.
Baca juga: Semringahnya Buruh Rokok di Kudus Dapat BLT
Tampak setiap meja ada empat buruh yang memproduksi rokok klobot. Mereka berpasangan dan berbagi tugas. Yang dua orang melinting rokok klobot dan yang dua orang lainnya merapikan menggunakan gunting.
Setelah itu, rokok klobot masuk tahap pengecekan kualitas dan kerapian. Setelah dianggap sesuai, rokok klobot Sukun pun dikemas dengan isi enam batang rokok klobot.
Menurut Corporate Secretary PT Sukun Wartono Indonesia, Deka Hendratmanto, rokok klobot adalah rokok kretek generasi pertama di Nusantara, sebelum muncul rokok dengan teknologi bungkus papir atau kertas.
Deka menuturkan, saat ini rokok klobot bisa dikatakan hampir punah. Hanya segelintir perusahaan rokok di Indonesia yang masih memproduksinya.
“Mungkin PT Sukun ini hanya satu atau dua perusahaan di Indonesia yang masih memproduksi rokok klobot. Produksinya memang tak banyak, kurang lebih dua ribu batang per hari,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.
Secara umum, ia mengungkap, peminat rokok klobot berada di wilayah Pantai Utara (Pantura). Terutama di Pekalongan dan Tuban yang permintaan rokok klobot masih cukup lumayan tinggi.
“Peminat roko klobot paling banyak memang di daerah Pantura. Terutama para nelayan itu masih suka dengan rokok klobot Sukun,” bebernya.
Baca juga: Buruh PR Sukun Baca Selawat Sebelum Kerja, Gus Yasin: ‘Itu Menarik’
Buruh rokok Maryatun (67) mengaku sudah bekerja di PT Sukun Wartono Indonesia di bagian produksi rokok klobot selama 40 tahun.
“Kalau bekerja di perusahaan Sukun ini sejak belum menikah. Sekarang sudah punya cucu dan anak pertama saya berusia 42 tahun, saya masih bekerja di Sukun bagian produksi rokok klobot,” ujarnya.
Dia mengaku, bekerja dari pagi hingga pukul 10:00 WIB. Untuk jumlah produksi tergantung garapan. Jika garapan lagi banyak maka rokok klobot yang diproduksi juga banyak.
“Namun, rata-rata sejak pagi hingga pukul 10:00 WIB biasanya saya bisa memproduksi rokok klobot sebanyak 600 batang,” tukasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

