SEPUTARKUDUS.COM, WATES – Di tepi utara jalan Desa Wates Gang 1, Kecamatan Undaan, Kudus tampak rumah berdinding belum dicat dan berlantai keramik. Di dalam rumah terlihat seorang pria yang berdiri menggunakan tongkat sedang melayani pelanggan. Pria tersebut bernama Zunaidi, pemilik Zu tailor. Berkat ketekunan dan kinginannya kuat, dirinya mampu wujudkan mimpinya untuk menjadi penjahit.

Di sela aktivitasnya tersebut, pria yang akrab disapa Zu itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang kondisi dan usahanya. Dia mengungkapkan, satu kakinya mengalami lumpuh permanen sejak berusia dua tahun. Menurutnya hal tersebut dikarenakan penyakit polio.
“Saat lahir, aku normal seperti anak lainnya. Namun sejak usia dua tahun kakiku kena polio. Pada saat itu belum ada imunisasi polio, akhirnya satu kakiku mengalami kelumpuhan. Dan saat berjalan aku harus menggunakan tongkat sebagai penompang,” ungkap Zu saat ditemui, beberapa waktu lalu.
Warga Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus, itu magatakan, meski saat berjalan harus menggunakan tongkat, dirinya memiliki keinginan kuat untuk bisa bekerja dan tak ingin menggantungkan hidup pada orang lain. Saat usianya 13 tahun, dia mengaku pernah bekerja pada orang yang memiliki usaha penjualan kertas. Namun dirinya kepincut untuk bisa menjahit, setelah melihat tukang jahit di sebelah tempat kerjanya.
“Kepincutnya itu karena bayaran menjahit lebih besar. Saat itu bayaran sata Rp 1700 sebulan, sedangkan menjahit Rp 2000 per satu celana. Aku pun berfikir, menjahit celana kalau sudah mahir pasti sehari bisa jadi. Sedangkan upah jahit satu celana tersebut lebih banyak dari gajiku sebulan,” ungkap Zu.
Pria yang kini masih lajang itu mengatakan, dirinya bekerja memilah kertas milik orang tersebut hanya bertahan sebulan. Dirinya nekat keluar dan belajar menjahit pada penjahit di Desa Tumpang Krasak, Jati, Kudus. Menurutnya, dengan bisa menjahit dirinya bisa membuat usaha sendiri, tanpa harus bekerja ikut orang lain.
Zu belajar menjahit selama tiga bulan. Setelah merasa bisa, Zu mengaku dibelikan mesin jahit kakaknya dan menerima order jahitan di rumah. “Setelah bisa menjahit aku sempat mocok mengambil garapan milik penjahit lain. Namun hal tersebut tidak lama, karena berangsur-angsur orderan dari para tetangga semakin banyak,” ungkapnya.
Dia menerima order menjahit pakaian pria, kemeja hingga celana panjang dan pendek. Dia mengaku, menerima permak jeans, celana bahan, dan baju kemeja. Selain permak, Zu juga merenima order pembuatan aneka jenis pakaian baru.
“Aku bersyukur harapanku untuk punya keterampilan bisa terkabul. Karena dengan anggota tubuhku yang kekurangan, aku bisa mandiri dan tidak terlalu menggantungkan hidup pada keluarga. Alhamdulillah dengan menjahit hasilnya bisa aku buat bangun rumah, membeli motor roda dua yang dimodifikasi,” ujarnya.

