BETANEWS.ID, SOLO – Tak adanya SMA Negeri di Kecamatan Pasar Kliwon, Solo membuat ratusan siswa di sana harus gigit jari. Para lulusan SMP itu terpaksa mencari sekolah swasta atau ke luar daerah demi melanjutkan studinya. Jika pun ingin masuk SMA Negeri terdekat, mereka terhalang sistem zonasi.
Meski Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan sekolah virtual, tapi solusi tersebut tak bisa menampung banyak siswa karena hanya menyediakan satu rombongan belajar (rombel) yang berisi 36 siswa. Nantinya, siswa yang lolos seleksi akan menginduk di SMA Negeri 2 Solo.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Solo, Ekya Sih Hananto menjelaskan, sebenarnya pihaknya berupaya menyediakan dua rombel untuk mencukupi kuota calon peserta didik dari Pasar Kliwon. Namun, sejauh ini hanya satu rombel saja yang disetujui oleh Pemprov Jateng.
Baca juga: Ganjar Akui Banyak Siswa yang Bermasalah dengan Sistem Zonasi PPDB SMA/SMK
Dirinya tak memungkiri masih banyak pro dan kontra dari peserta didik maupun wali murid. Apalagi, masih banyak orang tua siswa yang mengeluhkan tentang pembelajaran jarak jauh (PJJ).
“Masih ada keragu-raguan sih dari orang tua. Pengennya sih tatap muka. Terus masukan dari Pak Rudy (Mantan Wali kota Solo) kalau virtual full satu bulan sampai tiga tahun kan menjemukan, terus kuotanya (internet) banyak, mahal di kuota. Maka usulan ada virtual yang satu minggu PTM,” kata dia saat sosialisasi Sekolah Virtual di Kantor Kecamatan Pasar Kliwon, Selasa (5/7/2022).
Camat Pasar Kliwon, Ahmad Khoironi mengungkapkan, hingga saat ini ada sekitar 36 penaftar. Namun, ada dua pendaftar yang mengundurkan diri karena memilih sekolah di swasta.
Baca juga: 216.107 Peserta Didik Diterima di PPDB SMA/SMK Jateng, Cari Namamu di Sini
Menurut Roni, dengan mengikuti kelas virtual, peran peserta didik dengan lingkugan sekitarnya memang lebih dominan. Apalagi, pada saat pandemi Covid-19 kemarin, anak-anak sudah terbiasa dengan PJJ.
“Karena memang di arahan tadi sudah jelas secara singkronis dengan tatap muka secara maya maupun fisik. Jadi memang memungkinkan walaupun banyak sekali pembelajaran jarak jauh, tapi tidak menutup kemungkinan ada pembelajaran tatap muka,” tandas Roni.
Editor: Ahmad Muhlisin

