BETANEWS.ID, KUDUS – Musisi folk asal Purbalingga, Nada Sumbang menyapa penggemarnya di Kampung Budaya Piji Wetan, Desa Dawe, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Senin (06/06/2022).
Di konser dalam rangka tour “Jalan Pengembara: Sunyajen Alas” itu, Nada Sumbang berhasil memukau penonton saat memainkan gitarnya di Panggung Ngepringan. Suaranya yang khas membuat penonton khusuk mendengarkan musik dan lirik-lirik yang menyuarakan kegelisahan umat manusia sejak dulu kala.
“Seperti pertanyaan klise, ‘saya itu siapa, ‘dengan cara bagaimana saya hidup’, ‘apa yang saya bawa’. Jadi, saya pernah mengalami pasang surut seperti semua manusia atau seniman alami. Ada yang memilih lanjut ada juga yang sebaliknya,” tutur Kucel.
Baca juga: 2 Tim dari Kampung Budaya Piji Wetan Wakili Kudus pada Program KBKM yang Digelar Kemdikbud RI
Kucel berharap, agenda tour Jalan Pengembara ini bisa mengambil banyak energi dan hal-hal baik dari berbagai kota dari berbagai individu.
“Kalau harapan praktisnya, semoga selesai perjalan bisa produksi album,” kata Kucel.
Kucel mengaku menggeluti musik sejak duduk di bangku SMP. Dia mulai berani menciptakan lagu sejak 2011 dan berani tampil dengan nama Nada Sumbang sejak 2016. Saat ini, dia sudah meluncurkan album ketiga. Di album ini, pria berusia 28 tahun itu menyebut secara wacana lebih terkonsep dan matang.
Menurutnya, album ketiga ini berbeda dengan album kedua yang bertajuk Keji (Kelana Jiwa) dan mengambil spirit tembang mocopat, mulai dari Mijil, Maskumambang sampai Pucung.
“Ya, album ketiga ini lebih terencana dan beragam. Selain itu semoga tetap bertumbuh sampai perjalanan terakhir di Banyuwangi,” ungkapannya.
Untuk penjualan album, selama ini dia keliling dari lapak ke lapak sendiri dan dibantu sama teman-teman seniman. Untuk album Keji, dia mencetak 100 keping dengan harga Rp40 ribu. Selama berkelana, ia sudah menjual sekitar 60 keping. Selain membuat album solo, dia juga membuat karya seni yang tak kalah menarik, yakni cerita pendek (Cerpen) berisikan tentang alam dan kehidupan.
Baca juga: Kampung Budaya Piji Wetan Dilaunching, Bergas: ‘Ini Wujud Nyata Menjaga Kearifan Lokal’
Sementara itu, budayawan serta salah satu perintis KBPW Jesy Segitiga mengatakan, acara ini sebagai ajang bersilaturahmi yang kian hari kian pudar karena peran sosial media.
“Spirit dari Nada Sumbang ini, patut kita rawat. Menjaga tali silaturahmi dengan tetap menyambangi secara langsung. Berjabat tangan. Berpelukan. Tidak hanya lewat pesan singkat. Sehingga terasa lebih khidmat,” bebernya.
Selain itu, Jesy menambahkan, acara ini sebagai wadah teman-teman pegiat seni nyambung roso.
“Seperti di posternya ‘Sambang Sambung Sumbang’, karena pertemuan adalah doa,” pungkas Jesy.
Editor: Ahmad Muhlisin

