31 C
Kudus
Selasa, Januari 27, 2026

Ruang Digital jadi Arena Saling Serang, Ketua PWI Jateng: ‘Butuh Penguatan Sikap Arif Bermedia’

BETANEWS.ID, KUDUS – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah Amir Machmud NS menyebut kondisi ruang digital bak rimba raya. Siapa kuat, maka dialah yang akan survive. Menurutnya, ruang digital terasa keruh, karena para pelaku media cenderung lemah dalam eksplorasi etika.

“Fenomena pemanfaatan media mainstream untuk memenangi opini, antara lain dengan bersikap ofensif kepada lawan politik, berjalan beriring dengan penggunaan platform-platform media sosial yang juga banyak menyampaikan unggahan-unggahan bersifat menyerang, menista, dan mem-bully,” tutur Amir saat menyampaikan refleksi akhir tahun 2021, Minggu (26/12/2021).

Menurut dia, kasus-kasus yang kemudian berproses di ranah UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) menggambarkan konsekuensi berupa celah eksplorasi kearifan dalam mempertimbangkan akibat-akibat. Ini disebabkan oleh orang atau kelompok dalam bidang apa pun, cenderung main posting semaunya untuk meluapkan ekspresi.

-Advertisement-

Baca juga: Buka Desember Ini, Pelatihan Keamanan Digital di Solo Tampung 210 Ribu Peserta

“Dalam amatan saya, sekarang ini berkembang fenomena begitu mudah orang menyerang pihak lain, dan begitu gampang kemudian meminta maaf,” beber dia.

Artinya, ada kesenjangan dalam mempertimbangkan risiko-risiko postingan. Begitu enteng orang mengungkapkan perasaan tanpa mengeksplorasi sikap bijak.

Menurutnya, penyediaan ruang untuk warganet yang mengomentari sebuah isu publik tertentu dalam rubrik resmi media arus utama, secara tidak sadar menyuburkan sikap-sikap rasis dan antidemokrasi.

Walaupun kanal ekspresi publik itu tentu dibuka atas nama kemerdekaan berpendapat, secara langsung menjadi forum liar untuk menyampaikan apa saja tanpa filter dari aspek pelanggaran SARA, diskriminasi, dan berpotensi melukai nilai-nilai kebhinekaan.

Baca juga: Pengurus PWI Pati Resmi Dilantik, Bupati : ‘Berikan Informasi ke Masyarakat yang Faktual dan Aktual’

“Pada bagian lain, kemarakan aksi dan eksistensi para buzzer atau pendengung menciptakan pengembangan sikap-sikap antidemokrasi, diskriminasi, dan rasisme. Mereka banyak menyentuh dan mengeksploitasi wilayah sensitif agama, suku, dan ras,” bebernya.

Makanya, konsistensi literasi digital menjadi jawaban. Agenda ini merupakan bagian dari proses pendewasaan mengelola informasi dan gawai secara terus menerus.

“Literasi digital untuk berbagai kelompok masyarakat di semua level dan struktur sosial adalah proses pendidikan dan transformasi perilaku yang tidak akan pernah usai,” tandas Amir.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER