31 C
Kudus
Rabu, Januari 28, 2026

Kolaborasikan Seni Tradisi dan Modern, Teater Minatani Pati Angkat Cerita Roro Mendut ke Film

BETANEWS.ID, PATI – Seorang perempuan dengan tatapan tajam tampak memegang udud dengan bara di ujungnya. Kepulan asap terlihat dari pantulan bayangan di dinding kayu. Sesekali dia berhenti, dilihatnya udud itu, kegelisahan begitu terasa meski dalam siluet.

Bayangan itu, kemudian diabadikan lewat video. Sejumlah kameramen tampak tak ingin melewatkan detik demi detik pengadeganan yang dimainkan. Rupanya para anak muda itu tengah menggarap film “Bara” yang menceritakan tentang Roro Mendut.

Dalam film tersebut, diceritakan bagaimana perjuangan Roro Mendut sebagai boyongan perang Mataram untuk menghindar dari pernikahan dengan Tumenggung Wiraguna. Baginya, pernikahan dengan Wiraguna merupakan penghianatan bagi dirinya, maupun kadipaten tempatnya berasal.

-Advertisement-
Penggarapan film ‘Bara” di salah satu lokasi di Pati yang mengangkat cerita tentang Roro Mendut. Foto: Ist

Baca juga : Teater AS STAI Pati Pentaskan Lakon Dalang dan Wayang

Diapun memilih melawan meski bersiap dijerat dengan pajak yang tinggi. Syarat itu diberikan ke Wiraguna agar Mendut terdesak. Namun jalan cerita tak seperti itu, sebagai seorang perempuan yang memiliki aliran darah leluhur yang tak gampang menyerah Mendut memilih berjualan rokok. Syarat itupun mampu ditaklukkannya.

Hal itu tentu membuat Wiraguna geram. Terlebih mengetahui jika Mendut memilih untuk menambatkan hatinya pada Pronocitro, penjaga kuda dari Tumenggung Wiraguna itu sendiri.Konflik pun memuncak.

Kisah Roro Mendut, bagi warga Pati tentu lah tidak asing. Cerita rakyat Pati itu mengulik kegelisahan tersendiri bagi anggota Teater Minatani. Bagi mereka persoalan Mendut bukanlah sebatas percintaan belaka, namun ada tekad yang kuat dari Mendut untuk mempertahankan kehormatannya.

Kegelisahan itu dimunculkan dalam penggarapan karya. Sebelumnya cerita itu diangkat dalam sebuah panggung virtual dengan kemasan teater. Kali ini kisah Mendut itu ganti coba diangkat dengan konsep film.

Pemilahan film memang dilakukan lantaran masih dalam situasi pandemi. Proses penggarapan bisa dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Seperti crew dan pemain yang melalui vaksinasi maupun tes swab serta menjaga aturan prokes lainnya. Bagi mereka situasi pandemi diharapkan tidak lantas menghentikan semangat berkarya.

“Justru menggugah kami untuk memunculkan warna baru dalam proses kreatif. Bila selama ini kami main dalam panggung nyata, sekarang kami ingin mencoba panggung film,”ujar Siwi Agustina, Ketua Teater Minatani Pati.

Proses penggarapan cerita rakyat Pati itu memang terbilang cukup jarang dilakukan. Terlebih yang dilakukan oleh warga Pati sendiri. Mereka berharap dengan diangkatnya cerita Mendut dengan konsep film dapat memperkenalkan cerita rakyat Pati tersebut kepada anak muda.

“Skenario ini ditulis oleh Beni Dewa dan Lacahya yang berasal dari naskah teater kemudian diadaptasi ke film. Untuk sutradaranya juga Beni Dewa dengan dibantu pengarah sinematografy Pendi Subarong serta Kameraman Yovie Young. Kami juga berterimakasih kepada pak Mogol yang merupakan pemain senior sekaligus pengampu kelompok ketoprak di Pati bersedia menjadi pengarah produksi serta sejumlah pihak lain yang telah membantu,” terangnya.

Dalam penggarapannya kali ini, mereka memang memadukan antara konsep tradisi, dan teater yang dituangkan dengan sentuhan sinematografi. Seperti memunculkan seni tari maupun bela diri.

“Memang cukup banyak tantangan dalam penggarapan film dengan latar kerajaan. Namun bagaimanapun kami tumbuh di Kabupaten Pati. Kota dengan seni peran ketoprak menjadi ikonnya. Kami ingin belajar dari sana,”imbuhnya.

Uniknya ,pengambilan gambar film tersebut dipusatkan seluruhnya di Kabupaten Pati. Hal itu lantaran lewat film tersebut ingin turut mengangkat potensi yang ada khususnya tempat wisata. Seperti halnya di Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal yang terkenal akan keindahan alam.

Baca juga : Roro Mendut, Kisah Tragis Perempuan Cantik yang Pantang Menyerah

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati rupanya turut memberikan apresiasi dalam proses kreatif tersebut. Bahkan mereka dipercaya untuk diikutkan ke dalam Duta Seni yang diinisiasi oleh Badan Penghubung Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Kami cukup bangga akan kepedulian anak-anak muda dalam menggarap seni budaya yang berasal dari daerahnya. Terlebih Pati memang dikenal kuat dari seni peran ketopraknya,”tambah Kepala Disdikbud Pati Winarto melaui Kabid Kebudayaan Paryanto.

Dia juga menyebut memberikan dukungan penuh bagi perkembangan seni budaya yang ada saat ini. Termasuk dalam proses kreatif pembuatan film “Bara” tersebut. Dia berharap nantinya akan ada proses kreatif yang terus bermunculan. Terutama untuk meneguhkan Pati Kota Budaya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER