BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus HM Hartopo meminta pedagang kaki lima (PKL) tak lakukan aksi demonstrasi, terkait kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat level 4.
“Jangan ada demo, ndak boleh. Di masa pandemi ini tidak boleh. Apalagi ini masih PPKM Level 4,” kata Hartopo selepas rapat bersama Satgas covid-19 pusat, Jumat (30/7/2021).
Hartopo meminta agar PKL bisa memyampaikan aspirasi terkait PPKM dengan lebih baik. Tanpa perlu lakukan aksi demo turun ke jalan. Pihaknya membuka pintu lebar bagi PKL untuk audiensi bersamanya.
Baca juga: Prihatin Harga Cabai Rp 6 Ribu Sekilo, Hartopo Borong 2 Kuintal Cabai Milik Warga Desa Kesambi
“Ini kan masih PPKM Level 4, kita kasih kesempatan untuk audiensi,” ungkapnya.
Pihaknya tak menampik, jika nanti Kudus bisa turun level menjadi level 2, akan ada kelonggaran di sentra ekonomi. Termasuk kelonggaran bagi usaha, mikro, kecil, menengah (UMKM).
“Kudus bisa level 2, nanti ada kelonggaran dalam pemulihan ekonomi. Karena kami juga sadar, banyak yang terdampak saat ini,” ungkapnya.
Hartopo mencontohkan, seperti yang terjadi pada PKL di area Balai Jagong, mereka sudah menutup lapak jualannya sejak selesai Lebaran lalu. Begitupun PKL di Taman Bojana. Mereka mengeluhkan akses jalan yang ditutup selama PPKM, membuat sepinya pelanggan di pusat kuliner samping Kantor Bupati tersebut.
“Kalau untuk akses ke Taman Bojana, kita lihat keputusannya sampai tanggal 2 Agustus, kita lihat nanti,” terang Hartopo.
Baca juga: Kasus Corona di Kudus Melandai, Hartopo Beberkan Strategi Penanganannya
Untuk diketahui, belum turunnya level Kabupaten Kudus dalam penyebaran kasus Covid-19 dikarenakan beberapa faktor. Utamanya karena Kudus merupakan wilayah aglomerasi yang berada di tengah-tengah kota besar yang kasus covid-nya masih tinggi. Sehingga, meski kasus covid di Kudus melandai, tidak menarik minat masyarakat daerah lain untuk datang ke Kudus yang dianggap sudah aman.
Oleh sebab itu, sampai saat ini Kabupaten Kudus masih berada di level 4 dan perlu adanya pengetatan seperti halnya daerah disekitarnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

