Meski Rumahnya Tidak Kebanjiran, Sukarni Pilih Mengungsi, Alasannya Bikin Haru

BETANEWS.ID, KUDUS – Di satu ruangan SDN 2 Payaman, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus tampak puluhan pengungsi. Di ruangan lain terlihat beberapa perempuan duduk sambil memperhatikan anak mereka sedang bermain. Satu di antara perempuan tersebut yakni Sukarni yang memutuskan tetap mengungsi meski rumahnya tidak kebanjiran.

Perempuan yang tercatat sebagai warga Dukuh Karang Anyar, Desa Payaman tersebut menuturkan, sudah hampir sepekan pedukuhan tempat tinggalnya kebanjiran. Ratusan rumah terendam banjir begitu juga akses jalan masuk dukuh tersebut tergenang setinggi satu meter. Para tetangganya pun banyak yang mengungsi. Dia mengaku, sebenarnya rumahnya tidak kebanjiran tapi ia memutuskan tetap ikut mengungsi. Hal itu dilakukan agar tetap bisa bekerja.

Warga menggunakan ban untuk transportasi di Desa Payaman yang sedang kebanjiran. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Intensitas Hujan Tinggi dan Dibukanya Pintu Bendung Wilalung Jadi Penyebab Banjir di Payaman

-Advertisement-

“Meski rumah saya tidak kebanjiran, saya tetap ikut mengungsi. Biar bisa tetap bekerja, sebab banjir naik terus. Sekarang tinggi banjir sudah sepinggang. Kalau saya tetap bertahan di rumah nanti saya tidak bekerja. Otomatis tidak ada pemasukan,” ungkap Sukarni kepada Betanews.id, Sabtu (6/2/2021).

Dia mengatakan, selama ini bekerja di pabrik rokok. Biasanya ia berangkat dan pulang kerja mengendarai motor. Kalau ia tidak mengungsi, otomatis tidak bisa berangkat kerja. Sebab jalan di perkampungannya terendam banjir setinggi satu meter. Sehingga tidak bisa dilewati motor.

Oleh sebab itu, kata dia, memilih mengungsi agar bisa tetap bekerja. Motor sudah dititipkan ke tempat kerabatnya yang tidak jauh dari pengungsian. Sehingga ia tetap bisa berangkat kerja dengan aman tanpa harus melewati banjir. Selain itu, dengan tetap bekerja ia memastikan ada pemasukan di kala musibah banjir. Meski selama banjir, makan ditanggung oleh pihak desa.

“Saya harus tetap kerja mas agar tetap ada pemasukan. Sebab suamiku kerjanya buruh bangunan dan saat ini lagi nganggur. Kalau saya menetap di rumah dan tidak bekerja nanti tidak ada pemasukan sama sekali. semoga saja banjir lekas surut,” harapnya.

Terpisah, Kepala Desa Payaman yakni Noor Hadi menuturkan, hampir sepekan desanya mengalami musibah banjir. Ada seribuan warganya yang terdampak. Serta paling banyak yang terdampak adalah warga yang tinggal di Dukuh Karang Anyar. Menurutnya, banjir di dukuh tersebut lumayan tinggi antara 80 sentimeter sampai satu meter.

“Warga di Dukuh Karang Anyar kami imbau untuk mengungsi, sebab tinggi banjir naik terus. Kami juga sudah mengevakuasi puluhan warga, total yang di pengungsian saat ini ada sekitar 50 jiwa. Sedangkan yang lainnya kemungkinan memilih mengungsi di tempat kerabatnya,” bebernya.

Baca juga : Dua Pekan Kebanjiran, Warga Tanjungkarang Hanya Pasrah, Bantuan Juga Tak Pernah Ada

Dia menambahkan, selama terjadi banjir, pihaknya secara rutin memberikan bantuan kepada warga yang terdampak. Setiap hari tiga kali para warga korban banjir ia suplai nasi bungkus beserta lauknya. Tidak hanya warga yang mengungsi saja, tapi warga yang terdampak banjir tapi memilih untuk menetap di rumah mereka.

“Selain mencukupi logistik, kami juga menyediakan tim medis untuk warga korban banjir. Hal itu untuk memastikan korban banjir agar tidak terserang penyakit dan tidak kelaparan,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER