BETANEWS.ID, KUDUS – Langit mulai gelap saat Arif Noor Asro (27) atau yang lebih akrab disapa Arif Enter sampai di kantor Enter Management. Kantor yang berada di Desa Purwosari, Kecamatan Kota Kudus itu merupakan penyedia jasa event organizer dan wedding organizer yang dibangunnya 2014 lalu.
Ia mengakui, perjalanannya bisnisnya itu tidaklah mudah. Ada banyak kesulitan yang dilalui, hingga saat ini usahanya tersebut sudah mampu mengangkat namanya dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain.
Rintangan itu mulai dari difitnah oleh orang-orang yang tidak suka dengan dirinya, dikirimi benda-benda mistis hingga ditipu oleh temannya. Semua hal itu datang padanya seiring semakin naiknya bisnis yang ia geluti. Bahkan, ia sempat putus asa dan berserah diri.
Baca juga: Enter Management, Puaskan Pelanggan dengan Totalitas Konsep
“Jadi saya kan orangnya selalu positive thinking sama orang. Diajak buat event, saya iyakan. Itu modalnya sampai saya jual aset. Mobil yang saya dapat dari kerja di Jakarta dan tabungan. Jumlahnya ratusan juta. Ternyata saya ditipu. Saat itu, di tabungan saya tinggal Rp 500 ribu. Benar-benar tinggal segitu,” ungkap dia.
Saat terpuruk itu, Arif yang rutin berdonasi di Yayasan Yatim Mandiri setiap Ramadan dihubungi oleh pengurus panti. Karena merasa tidak enak, Arif ikhlas menggunakan sisa uang di tabungan untuk didonasikan dan hampir menjual ponsel satu-satunya untuk makan dan kebutuhan Lebaran di rumah.
“Saya juga anak yatim. Dari dulu memang biasa ngasih ke Yayasan Yatim Mandiri. Waktu ditelepon sama pihak yayasan, saya sempat menangis. Karena bimbang, saya sudah tidak ada uang sama sekali. Sampai akhirnya saya pasrah dan ikhlas. Saya putuskan untuk tetap titip,” beber Arif.
Namun, sebuah keajaiban datang. Setelah ia ikhlaskan semua yang menimpanya, tepat sebelum ia pergi ke konter ponsel, Arif mendapatkan panggilan telepon dari orang Jepara. Dari panggilan tersebut ia ditawari untuk mengerjakan event dengan anggaran Rp 200 juta.
Baca juga: Kisah Hidup Winarni, 40 Tahun Dedikasikan Hidupnya untuk Dunia Tari
“Dengan susah payah, saya naik motor. Dulu belum ada Google Maps. Saya nanya dari satu orang ke orang lain alamatnya sampai ketemu. Waktu itu langsung dibayar di muka 50 persen. Saya hari itu juga mendapat transferan Rp 100 juta. Saya langsung nangis,” kata dia.
Menurutnya, event di Jepara itu jadi titik balik karirnya di event organizer. Lantaran dari situ dia mulai banyak dapat kerjaan, mulai dari khitanan, pernikahan, tedhak sinten, ulang tahun, melatih duta wisata Kota Kudus hingga event besar lain pernah ia pegang.
Editor: Ahmad Muhlisin

