31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Wayang Klithik, Warisan Budaya Penanda Berdirinya Desa Wonosoco

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara gamelan terdengar mengalun merdu saat masuk Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Sabtu (13/6/2020). Semakin didekati, suara tersebut ternyata bersumber dari pagelaran wayang di dekat sumber mata air desa setempat. Para niaga yang mengenakan masker terlihat menabuh alat musik masing-masing dengan mengikuti alur cerita yang dimainkan Sang Dalang.

Acara tersebut merupakan pagelaran Wayang Klithik, kesenian khas Desa Wonosoco yang melegenda dan terus dilestarikan oleh warga setempat. Desa yang terletak di lereng Pegunungan Kendeng Utara tersebut memang sudah memiliki kesenian itu sejak zaman penjajahan Belanda. Sejarah itu diceritakan oleh Sutikno (46), dalang dari Wayang Klithik.

Para Niaga saat mengiringi pagelaran Wayang Klithik di acara Tradisi Resik-Resik Sendang di Desa Wonosoco, Sabtu (13/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Seusai pagelaran, generasi ke-8 dari keluarga dalang tersebut mengkisahkan, saat ini dia meneruskan ilmu dan perjuangan sang ayah yang dulunya berprofesi sama.

-Advertisement-

Berbicara bentuk, Wayang Klithik ini terbuat dari kayu. Bentuknya pipih. Perajinnya juga dari desa setempat. Kalau cerita, ciri khas dari Wayang Klithik lebih ke babad. Seperti cerita Kerajaan Majapahit, Singosari, dan Demak Bintoro.

Baca juga: Berharap Berkah, Warga Berebut Air di Kirab Banyu Penguripan Kudus

“Dulu bapak saya, Pak Sumarlan, atau biasa dipanggil Mbah Marlan dalang juga. Jadi ini untuk melestarikan tradisi dan kesenian. Karena memang Wayang Klithik asli sini, bahkan seluruh niaga, sinden semuanya orang asli Desa Wonosoco,” ungkap Sutikno.

Dikatakannya, Wayang Klithik sendiri lahir bersamaan dengan awal mula berdirinya Desa Wonosoco. Itu bermula saat Pangeran Kajoran dari Mataram dan Ki Saji bersemedi untuk mencari petunjuk di tempat yang kemudian ditemukan dua sumber mata air.

“Nah, saat bersemedi meminta petunjuk. Saat itu kan masa perang Mataram melawan Belanda. Mereka bertemu dengan dua orang wanita cantik. Wanita itu namanya Mbah Kariyah dan Mbah Suminah. Sampai sekarang, mereka dipercaya yang menunggu di Sendang. Mbah Kariyah di Sendang Dewot ini. Kalau Mbah Suminah di Sendang Gading,” papar dia.

Setelah memenangkan peperangan, Pengeran Kajoran bersama pasukan menebang beberapa pohon dan membersihkan semak belukar di lereng pegunungan Kendeng itu untuk dijadikan perkampungan. Dalam babat alas itu, sang pangeran kehilangan mata cincinnya.

“Dari saat itu, lahir Desa Wonosoco. Yang berarti Wono adalah hutan atau alas dan Soco berarti batu akik,” ungkap pria yang sudah 10 tahun mendalang itu.

Baca juga: Masjid Wali Hadiwarno, Satu Abad Lebih Tua dari Masjid Menara Kudus

Singkat cerita, lanjut Sutikno, untuk menghormati ke dua leluhur itu, maka setiap tahun ada tradisi Resik-Resik Sendang dan dimeriahkan pagelaran Wayang Klithik. Cerita yang beredar di masyarakat, lahirnya kesenian itu memang dikhususkan untuk ritual tersebut. Warga desa meyakini, pagelaran Wayang Klithik harus ada dalam tradisi tersebut sebagai pelestarian dan perawatan tradisi untuk menghormati leluhur.

“Diceritakan Bapak, dulu pagelaran Wayang Klithik dalam tradisi Resik-Resik Sendang pernah diganti sama Tayuban. Setelah itu, air yang keluar dari sumber (malah) berwarna merah. Akhirnya balik lagi, pengiringnya, ya pagelaran Wayang Klithik ini,” tukas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER