BETANEWS.ID, KUDUS – Perbaikan jaringan daerah irigasi (DI) di Kabupaten Kudus kembali berlanjut melalui program Instruksi Presiden (Inpres). Sebanyak 11 daerah irigasi menjadi sasaran rehabilitasi yang diharapkan mampu memperlancar distribusi air ke lahan pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Pekerjaan yang dilaksanakan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), tersebut menggunakan skema multiyears atau tahun jamak. Pekerjaan dijadwalkan mulai awal November 2026 dan ditargetkan selesai pada April 2027.
Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) BBWS Pemali Juana, Julius, mengatakan persiapan pekerjaan saat ini telah memasuki tahap pengukuran. Pelaksana proyek, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA, diharapkan segera memulai pekerjaan fisik setelah seluruh persiapan lapangan selesai.
Menurut Julius, waktu pengerjaan pada akhir 2026 perlu dimanfaatkan secara maksimal. Pekerjaan dengan volume besar diharapkan dapat dikebut sebelum curah hujan meningkat dan berpotensi menghambat proses konstruksi.
“Kami berharap teman-teman WIKA bisa bekerja maksimal. Kerjakan pekerjaan-pekerjaan yang volumenya besar agar bisa terprogres sehingga di musim penghujan mereka tidak terkendala lagi dengan kekurangan volume pekerjaan,” ujarnya seusai kegiatan Sosialisasi Peningkatan dan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Utama Kewenangan Daerah di Kantor PUPR Kudus, Rabu (28/10/2026).
Ia menjelaskan, rehabilitasi tersebut merupakan kelanjutan program serupa pada 2025, dengan sasaran daerah irigasi yang berbeda. Lokasi rehabilitasi tahun ini ditentukan melalui proses pengusulan dan verifikasi secara berjenjang hingga memperoleh persetujuan pemerintah pusat.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus, Faustine Ike, mengatakan usulan rehabilitasi didasarkan pada kondisi jaringan irigasi di lapangan.
Menurutnya, kerusakan saluran tidak selalu terjadi di sepanjang jaringan. Sebagian saluran masih berfungsi dengan baik, tetapi ada pula segmen yang mengalami kerusakan ringan hingga berat sehingga membutuhkan penanganan.
“Saluran irigasi itu panjang. Ada bagian yang kondisinya masih baik, tetapi ada juga yang sudah rusak. Bagian yang membutuhkan penanganan itulah yang kami usulkan untuk diperbaiki,” jelasnya.
Penentuan lokasi juga dilakukan melalui pemeriksaan lapangan yang melibatkan BBWS Pemali Juana, Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), perangkat desa, dan pihak terkait lainnya. Proses tersebut bertujuan memastikan kebutuhan perbaikan sesuai dengan kondisi aktual di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Kudus mendukung pelaksanaan program tersebut melalui koordinasi di wilayah setempat. Setelah pekerjaan selesai, bangunan irigasi itu nantinya akan diserahkan kepada pemerintah kabupaten sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
Rehabilitasi ini diharapkan dapat memulihkan fungsi jaringan irigasi sekunder yang mengalami kerusakan. Dengan distribusi air yang lebih baik, kebutuhan pengairan lahan pertanian diharapkan dapat terpenuhi sehingga produktivitas pertanian di Kabupaten Kudus tetap terjaga.
Editor : Kholistiono

