BETANEWS.ID, JEPARA – Industri furnitur Jepara saat ini menghadapi tantangan serius berupa kelangkaan tenaga kerja akibat masifnya pertumbuhan industri padat karya. Kondisi tersebut membuat para pengrajin kayu mulai mengambil langkah besar dengan mengalihkan proses produksi dari manual ke mesin modern.
Ketua Umum Asosiasi Pengrajin Kayu Jepara (APKJ), Andriyan Susanto, mengungkapkan bahwa persaingan dalam mencari sumber daya manusia (SDM) semakin ketat karena banyaknya industri besar di Jepara yang menyerap ribuan karyawan. Kondisi itu memaksa para pelaku UMKM furnitur untuk berinovasi agar tetap kompetitif dari sisi harga dan efisiensi produksi.
“Tenaga kerja yang kita butuhkan hari ini relatif lebih sulit, apalagi di Jepara banyak industri padat karya yang menyerap ribuan karyawan, sehingga di sektor furniturnya juga ada kendala di tenaga kerjanya,” ujar Andriyan dalam kegiatan Roadshow IFMAC & WOODMAC 2026 yang digelar di Lucca Resort & Residence Jepara, Selasa (11/8/2026).
Selain faktor persaingan industri, Andriyan menyebut ada pergeseran minat kerja pada generasi muda atau Gen Z saat ini. Citra industri furnitur yang dianggap kotor dan berdebu membuat sektor industri furnitur kurang diminati dibandingkan pekerjaan di pabrik yang lebih bersih.
Dengan beralih ke mesin, Andriyan berharap hal itu juga bisa menjadi daya tarik bagi anak muda untuk mau bekerja di sektor furnitur.
“Image sebagai produsen furnitur itu kan kecenderungannya kotor karena masih menggunakan manual. Kalau dimigrasi ke mesin, harapannya Gen Z mulai berpikir ulang, ternyata kerja di sektor furnitur itu tidak selalu bergelut dengan debu, karena sudah menggunakan mesin,” ujar Andriyan.
Saat ini, penggunaan teknologi di kalangan pengrajin kayu di Jepara, menurutnya, masih berada di angka 50 persen. Ke depan, ia menargetkan penggunaan mesin untuk proses produksi bisa mencapai 80 persen.
Dengan teknologi, tenaga manusia nantinya hanya akan difokuskan pada proses perakitan atau assembling, sementara pembentukan komponen dilakukan sepenuhnya oleh mesin seperti CNC 3-axis atau 5-axis.
Namun, transisi tersebut menurutnya bukan tanpa hambatan. Mayoritas mesin yang ada di pasar saat ini menggunakan standar listrik tiga fase yang membutuhkan daya besar dan infrastruktur luas, sehingga sulit dijangkau oleh UMKM.
Untuk itu, Andriyan berharap produsen mesin dapat menyediakan solusi berupa mesin standar satu fase yang lebih ramah bagi pelaku UMKM.
Menanggapi kebutuhan tersebut, Project Director IFMAC & WOODMAC 2026, Cloudinia J. Dieter, menyatakan bahwa pihaknya siap memfasilitasi kebutuhan para pengrajin melalui pameran permesinan kayu terbesar di Indonesia.
“Kami akan menampung masukan dari para pelaku industri. Di IFMAC nanti juga tersedia berbagai pilihan (produk), dari tools sederhana hingga mesin modern yang sudah digitalisasi,” jelas Cloudinia.
Pameran IFMAC & WOODMAC 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 23–26 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Ajang ini akan menghadirkan sekitar 150 peserta dari 20 negara yang menawarkan solusi permesinan, bahan baku, hingga perangkat lunak desain interior bagi para pelaku industri kayu di Tanah Air.
Editor: Kholistiono

