BETANEWS.ID, KUDUS – Krisis air bersih mulai dirasakan warga Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Musim kemarau membuat sejumlah sumur warga mengering dan debit air terus menurun. Sedikitnya 375 kepala keluarga (KK) atau 1.091 jiwa terdampak kondisi tersebut.
Merespons laporan masyarakat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menyalurkan bantuan 15 ribu liter air bersih di RW 3 Desa Glagahwaru, Jumat (17/7/2026). Bantuan tersebut didistribusikan melalui kolaborasi BPBD, Perumda Tirta Muria, dan Satpol PP.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, laporan kekeringan diterima setelah warga mengeluhkan sumur mulai surut, bahkan air yang tersisa berbau. Menindaklanjuti laporan tersebut, pemerintah langsung melakukan dropping air bersih.
“Kami menerima aduan dari warga terkait kekeringan di Glagahwaru. Setelah salat Jumat, kami langsung menyalurkan bantuan air bersih agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” katanya.
Menurut Sam’ani, kondisi kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang harus diantisipasi sejak dini agar dampaknya tidak meluas ke wilayah lain. Oleh karena itu, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) diminta bergerak cepat apabila ditemukan daerah yang mulai mengalami krisis air bersih.
Baca juga : Kekeringan Mulai Melanda Glagahwaru Kudus, 1.091 Warga Terdampak Krisis Air Bersih
“Kami berharap seluruh OPD saling berkoordinasi agar penanganan kekeringan bisa dilakukan lebih cepat,” ujarnya.
Kepala Desa Glagahwaru, Nurdi, mengatakan kekeringan mulai dirasakan sekitar dua pekan terakhir dan hingga kini masih terpusat di RW 3. Ia berharap bantuan air bersih terus diberikan hingga kondisi kembali normal.
“Sementara baru RW 3 yang terdampak. Mudah-mudahan tidak meluas ke wilayah lain,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kudus Eko Hari Djatmiko melalui Kepala Seksi Kedaruratan Ahmad Munaji menjelaskan, hingga saat ini Glagahwaru menjadi satu-satunya desa yang tercatat mengalami kekeringan di Kabupaten Kudus.
Berdasarkan prakiraan cuaca, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung hingga September, bahkan berpotensi berlanjut sampai November 2026.
“Kami terus memantau perkembangan di lapangan dan siap menyalurkan bantuan apabila ada wilayah lain yang mengalami kekeringan,” terangnya.
Editor: Kholistiono

