BETANEWS.ID, KUDUS – Ketekunan Evyta Novellia Putri menekuni olahraga taekwondo sejak duduk di bangku sekolah dasar akhirnya membuahkan hasil. Mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) itu berhasil menorehkan prestasi pada ajang Gubernur Jateng Cup Taekwondo Open Tournament 2026.
Bagi Evyta, taekwondo bukan sekadar cabang olahraga, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah dijalani selama lebih dari 11 tahun. Ketertarikannya pada bela diri asal Korea Selatan itu bermula ketika masih duduk di kelas tiga sekolah dasar.
Saat itu, ia mengaku mulai jenuh mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari. Kesempatan mencoba hal baru datang ketika sekolahnya membuka ekstrakurikuler taekwondo.
“Aku awalnya sama sekali asing dengan taekwondo. Setelah bertanya kepada almarhum papa, beliau menjelaskan kalau taekwondo adalah salah satu bela diri dari Korea Selatan. Dari situ aku mulai tertarik,” kenangnya.
Keinginannya mendapat dukungan penuh dari kedua orang tua. Namun, sang ayah berpesan agar ia berlatih dengan sungguh-sungguh dan tidak sekadar mengikuti kegiatan untuk mengisi waktu luang.
Pesan tersebut terus dipegang hingga sekarang. Keseriusan Evyta berlatih mulai membuahkan hasil saat mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA), di mana ia berhasil meraih juara pertama dan mewakili Kabupaten Kudus ke tingkat Karesidenan Pati.
“Pengalaman itu yang membuatku semakin yakin untuk terus bertahan di dunia taekwondo. Dari situ aku merasa perjuanganku tidak sia-sia,” tuturnya.
Memasuki dunia perkuliahan di UMK, tantangan yang dihadapi semakin besar. Evyta dituntut mampu membagi waktu antara menjalani perkuliahan di Program Studi Psikologi dan mempertahankan intensitas latihan sebagai atlet.
Baca juga : 296 Pelajar Kudus Siap Ikuti Pertukaran Pelajar, Kini Berlangsung Dua Pekan
Persiapan menghadapi Gubernur Jateng Cup Taekwondo Open Tournament 2026 dimulai sejak Mei 2026. Selama masa persiapan, ia menjalani latihan teknik dasar, poomsae, serta meningkatkan kondisi fisik dan kekuatan.
Tantangan terberat datang pada Juni 2026 ketika jadwal latihan berbarengan dengan perkuliahan dan ujian semester. Kondisi itu membuatnya harus mengatur waktu seefektif mungkin agar keduanya tetap berjalan seimbang.
“Aku sempat kesulitan membagi waktu karena latihan bersamaan dengan kuliah, apalagi menjelang ujian. Tapi aku tetap berusaha latihan mandiri ketika ada waktu senggang,” katanya.
Menurut Evyta, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal kelelahan fisik, tetapi juga tekanan mental selama menjalani persiapan. Meski demikian, ia memilih tetap fokus dan berusaha memberikan penampilan terbaik saat bertanding.
“Cukup stres karena fisik, mental, dan pikiran benar-benar diuji. Tapi aku selalu meyakinkan diriku sendiri kalau aku bisa memberikan yang terbaik,” tegasnya.
Prestasi yang diraih menjadi bukti bahwa konsistensi dan disiplin mampu mengantarkan seseorang meraih hasil terbaik. Bagi Evyta, setiap proses latihan, pengorbanan waktu, dan tantangan yang dihadapi justru menjadi bekal untuk terus berkembang sebagai atlet sekaligus mahasiswa.
Editor: Kholistiono

