Bendungan Bongpes Rusak, Air Asin Ancam Ribuan Hektare Sawah di Jepara

BETANEWS.ID, JEPARA – Lahan sawah padi milik petani di Kabupaten Jepara kembali terancam gagal panen akibat tercemar air asin dari aliran Sungai SWD II di Bendungan Welahan Bum (Bongpes), Desa Gerdu, Kecamatan Pecangaan.

Aliran Sungai SWD II kini tercampur air asin karena karet bendungan yang berfungsi mencegah masuknya air laut telah lama rusak.

Akibatnya, lahan pertanian padi yang mengandalkan pasokan air dari Sungai SWD II ikut terdampak.

-Advertisement-

Salah seorang petani di Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan, Supadi (70), mengatakan lahan sawah yang ia garap seluas satu bahu atau sekitar tiga perempat hektare telah tercemar air asin selama satu bulan terakhir.

Pada awalnya, air asin hanya menyebabkan daun padi mengering. Namun, seiring waktu, tanaman padi tidak dapat berkembang dengan baik sehingga ujung batangnya menguning.

“Petani ini banyak yang susah karena Bendungan Bongpes tidak bisa berfungsi. Kalau tidak dibendung, air asin ini masuk ke sawah warga,” ujar Supadi saat ditemui di Bendungan Bongpes, Sabtu (4/7/2026).

Tanaman padi miliknya saat ini berusia dua bulan atau sekitar 60 hari dan masih membutuhkan tiga kali pengairan sebelum memasuki masa panen pada usia sekitar 80 hari.

Jika tidak segera ditangani, hasil panennya diperkirakan hanya dapat terselamatkan sekitar 30 persen.

“Ini kalau tidak segera ditangani dampaknya ya memang gagal panen. Dari 100 persen yang bisa selamat paling cuma 30 persen,” sebut Supadi.

Baca juga : Kejari Jepara Telusuri 199 Dapur MBG, Data Mitra hingga Yayasan Didalami

Mengetahui kondisi tersebut, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melakukan penanganan sementara dengan menutup bendungan menggunakan karung berisi pasir dan tanah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mudhofir, mengatakan penanggulangan bendungan telah dilakukan sekitar satu pekan lalu.

Langkah tersebut diambil sebagai upaya sementara untuk menyelamatkan sekitar 1.130 hektare lahan pertanian yang telah ditanami padi dari ancaman gagal panen. Lahan tersebut tersebar di 13 desa di empat kecamatan.

“Ini penanganan sementara untuk menyelamatkan 1.130 hektare sawah yang sudah ada tanaman padi. Targetnya, pokoknya bisa terselamatkan dan bisa panen,” ujar Mudhofir.

Untuk penanganan jangka panjang, Mudhofir mengatakan pihaknya telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) yang menangani wilayah tersebut agar segera dilakukan perbaikan.

“Informasinya perbaikan nanti bisa dilakukan pada 2027 atau 2028,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER