BETANEWS.ID, JEPARA – Bagi Nur Solikin (52) atau akrab disapa Aji, warga asli Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, kopi awalnya bukan komoditas usaha yang menarik minatnya, meskipun 98 persen warga Tempur hidup dari bertani kopi, termasuk keluarganya.
Aji juga mewarisi lahan kopi. Namun, saat itu merantau ke luar kota dan menekuni berbagai bidang bisnis lebih menarik minatnya. Hingga akhirnya, Aji berada pada titik ketika hidupnya terasa hampa.
Di masa itulah, Aji memutuskan pulang ke desa dan merawat lahan kopi keluarganya yang sebelumnya digarap orang lain.
Kepulangan Aji tidak sekadar mengubah alur hidupnya. Ia pulang membawa misi untuk menerapkan sistem perkebunan kopi organik. Misi itu bermula dari keresahan pribadinya melihat kopi di Desa Tempur yang ditanam di lahan dengan kemiringan ekstrem.
Ditemui di kediamannya di Dukuh Pekuso RT 1 RW 3, Desa Tempur, Aji bercerita bahwa masa mudanya lebih banyak dihabiskan di tanah perantauan. Ia menekuni berbagai bidang bisnis, mulai dari usaha travel hingga pemasok papan kayu ke Jakarta.
“Hasilnya gede, lumayan, cuman ora nempel (tidak membekas). Ibarate masuk keluar lagi,” ucap Aji mengenang perjalanan hidupnya.
Pencarian akan rasa “ayem”, yang dalam istilah Jawa bermakna kedamaian hati, akhirnya ia temukan setelah pulang dan memutuskan menjadi petani kopi.
Aji memulai perjalanannya menjadi petani kopi pada 2012 di lahan perkebunan milik keluarganya.
Melihat lahan perkebunan di Desa Tempur yang memiliki kemiringan ekstrem, Aji menyadari bahwa jika menggunakan pupuk kimia, tanah di lereng Muria perlahan akan mati karena bakteri penyubur tanah akan hilang.
Karena itu, ia memutuskan menanam kopi dengan sistem organik. Namun, dari 2,5 hektare lahan yang berada di beberapa titik, pada awal percobaan hanya satu lahan yang ia garap dengan sistem organik.

Keputusan itu bukan tanpa tantangan. Ia harus meyakinkan orang tuanya bahwa tanpa pupuk kimia, tanaman kopi tetap bisa tumbuh.
“Di awal, satu lokasi dulu. Setelah itu jadi, hasilnya oke, baru di semua lokasi. Karena orang tua kan tidak percaya kalau tidak ada bukti,” ujar Aji.
Baru pada 2014, Aji sepenuhnya beralih ke sistem perkebunan organik. Modalnya berasal dari belajar secara otodidak dengan mengolah sendiri limbah yang ada di sekitarnya. Pada masa awal percobaan, Aji tidak langsung berhasil. Hasil panen kopinya menurun drastis.
“Dulu di awal-awal (hasil panen) turunnya drastis, hingga 70 persen, tapi saya nggak nyerah, saya coba terus,” kata Aji.
Di tengah upayanya membangun sistem pertanian yang ramah lingkungan, sementara hasil panennya turun hingga 70 persen dari sebelumnya, pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI menjadi penyangga agar ia tetap bertahan sebagai petani kopi.
Pinjaman itu digunakan untuk membayar tenaga kerja yang membersihkan rumput di sela-sela lahan kopi. Jika tidak dibersihkan, rumput tersebut dapat mengganggu penyerapan nutrisi oleh pohon kopi.
Petani lain biasanya menggunakan bahan kimia untuk membasmi rumput liar di sela tanaman kopi.
Aji sebenarnya sudah lama memanfaatkan KUR BRI. Pinjaman pertamanya diperoleh pada 2009 saat masih merintis usaha papan kayu. Saat itu, ia hanya meminjam plafon sebesar Rp5 juta.
Seiring berkembangnya usaha yang dijalankan dan hasil kebun kopinya mulai pulih, plafon pinjamannya meningkat secara bertahap menjadi Rp25 juta, Rp50 juta, hingga terakhir mencapai Rp100 juta.
“Modal pinjaman KUR BRI inilah yang saya gunakan untuk modal perawatan lahan kopi, terutama saat awal-awal beralih ke organik,” kata Aji.
Kini, Aji telah menemukan formula penggunaan pupuk organik. Untuk pupuk padat, ia membuatnya dari campuran kotoran kambing, kulit kopi, dan sekam padi yang ditebarkan di lahan kopi. Sementara pupuk cair dibuat dari air limbah pencucian kopi yang difermentasi.
Selain itu, dari hasil kesabarannya, Aji juga menemukan kunci untuk meningkatkan produktivitas panen kopi menggunakan sistem organik.
“Kuncinya, asal perawatannya maksimal, perantingannya rutin, tunas yang mengganggu dibuang, terus rumput di sela tanaman kopi juga rajin dibersihkan, hasilnya ternyata tidak jauh beda, hanya selisih 10 persen,” jelas Aji.
Kini, dari 2,5 hektare lahan kopi yang ia kelola dengan sistem organik, saat cuaca bagus hasil panennya bisa mencapai tiga ton.
Misi Aji dalam menjalankan sistem perkebunan kopi organik sejalan dengan upaya Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Makmur Desa Tempur, Saiful Anwar.
Saiful menyebutkan bahwa Gapoktannya menaungi 10 kelompok tani dengan jumlah anggota sekitar 450 petani. Ia mengungkapkan bahwa sistem pertanian kopi di Desa Tempur yang diwariskan oleh generasi terdahulu sebenarnya menggunakan metode organik.
Namun, dalam dua hingga tiga tahun terakhir, banyak petani kopi mulai menggunakan pupuk kimia untuk meningkatkan hasil panen.
“Kalau dipupuk kimia terus, tanah semakin tandus, bisa menimbulkan longsor. Kita kan inginnya mewarisi anak cucu kita tanah yang sehat, bukan tanah yang mati,” kata Saiful.
Saiful mengatakan bahwa dirinya terus memberikan edukasi kepada petani bahwa tanaman kopi di Tempur sebenarnya bisa tumbuh tanpa pupuk kimia.
Hasilnya pun tidak kalah baik. Sebab, secara kualitas, kopi Tempur memiliki keunggulan alami yang tidak dimiliki daerah lain, yakni angka rendemen yang tinggi.
“Di Tempur itu rendemen kopinya bagus, 4 kg gelondong basah bisa jadi 1 kg kopi kering, umumnya kan 5 banding 1,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala BRI Unit Kelet, Vero Afief Saputra, mengatakan bahwa penyaluran KUR bagi petani kopi di Desa Tempur sudah berjalan sejak BRI Unit Kelet berdiri, yakni sekitar 1996.
Saat ini terdapat 278 petani di Desa Tempur yang mengakses KUR BRI dengan total plafon pinjaman mencapai Rp10,8 miliar.
“Rata-rata plafon pinjamannya di kisaran Rp15 juta hingga Rp100 juta. Biasanya dimanfaatkan petani untuk biaya perawatan dan stek kopi,” sebut Vero.
Terkait penerapan sistem perkebunan organik, Vero mengatakan bahwa sebagai perbankan yang berada di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), BRI turut mendukung penerapan sistem pertanian maupun perkebunan organik.
“BRI sebagai BUMN secara prinsip sangat mendukung program kelestarian lingkungan dan pertanian berkelanjutan,” ujar Vero.
Kini, jauh dari hiruk-pikuk bisnis di kota yang dulu ia geluti, Aji akhirnya menemukan jawaban atas pencariannya. Tidak sekadar menemukan rasa “ayem”, Aji berharap upayanya dapat berdampak pada pelestarian lahan kopi di Desa Tempur sebagai warisan bagi anak cucunya di masa mendatang.
Editor: Kholistiono

