BETANEWS.ID, JEPARA – Sri Rahayu (46), atau akrab disapa Yayuk, warga asli Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, tak menyangka bisa memiliki warung sembako yang kini juga melayani kebutuhan transaksi keuangan bagi hampir seluruh warga di desanya.
Desa Tempur yang dijuluki sebagai surga tersembunyi di balik lereng Gunung Muria merupakan desa tertinggi di Jepara. Letaknya berada di ketinggian sekitar 500 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Dikelilingi perbukitan dan udara sejuk pegunungan, Tempur menyimpan kekayaan alam yang menjadi tulang punggung kehidupan warganya, terutama dari lahan perkebunan kopi yang digarap secara turun-temurun.
Namun, di balik potensi alamnya yang melimpah, jarak menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengakses fasilitas umum seperti layanan keuangan, warga harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit ke pusat Kecamatan Keling.
Sementara itu, jarak ke pusat Kota Jepara sekitar 52 kilometer atau 1,5 jam perjalanan. Waktu yang tidak sebentar, apalagi bagi petani kopi yang setiap hari sibuk di ladang dan mengurus hasil panen.
Kini, jarak itu terasa lebih dekat setelah warung sembako milik Yayuk hadir menyediakan layanan keuangan bagi warga Desa Tempur.
Ditemui di tokonya di Dukuh Pekoso RT 1 RW 3, Desa Tempur, Yayuk bercerita bahwa usaha warung sembako tersebut bermula pada 2017 dari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia rencanakan, yakni dengan memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada.
Yayuk merupakan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SDN 2 Tempur. Status tersebut ia peroleh setelah lama mengabdi sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) di desa tempat kelahirannya.
Sebelum menjadi warung sembako yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari, lalu berkembang menjual perabotan rumah tangga dan pakaian, usaha milik Yayuk awalnya merupakan Agen BRILink yang ia jalankan di ruang tamu rumahnya.

Lokasi rumah Yayuk berada di daerah tebing yang akses jalannya sempit. Pihak BRI kemudian menyarankan agar dibangun jalan setapak.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, Yayuk akhirnya membangun jalan yang menjadi akses menuju rumahnya. Pembangunan jalan itu dilakukan pada 2023. Saat itu, bangunan toko yang kini menjadi tempat usaha sembakonya juga ikut dibangun. Hal tersebut bermula setelah suaminya memperoleh pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.
“Awalnya itu dari Agent BRILink. Suami saya sudah lama kenal sama mantri BRI, lalu ditawari menjadi Agent BRILink. Saat itu saya juga belum tahu sama sekali soal Agent BRILink. Kalau mau didaftarkan ya monggo, saya cuma dimintai KTP,” beber Yayuk saat ditemui beberapa waktu lalu.
Penawaran itu terjadi pada 2016. Setahun kemudian, setelah melalui proses pengecekan, pada 2017 ia menerima mesin EDC dari BRI.
Yayuk kemudian membuka berbagai layanan keuangan, seperti transfer, tarik tunai, setor tunai, pembayaran listrik, BPJS, top up e-wallet, dan kini juga melayani penarikan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH).
Pada awal merintis usaha, Yayuk mengaku tidak mengalami kendala berupa penolakan dari warga. Sebab, warga langsung merasa terbantu karena tidak perlu lagi turun ke kota hanya untuk mengakses layanan keuangan dasar.
Pada masa awal tersebut, jumlah transaksi yang diterima Yayuk belum banyak, hanya sekitar 10 hingga 15 transaksi per hari. Namun kini jumlahnya berkembang pesat menjadi 30 hingga 50 transaksi per hari.
Peningkatan itu terjadi setelah warga Tempur mulai sering berbelanja secara daring. Pelanggannya kini tidak hanya berasal dari enam dukuh di Desa Tempur, termasuk dukuh tertinggi yaitu Duplak dan Kemiren, tetapi juga para kurir paket yang melakukan setor tunai dari hasil pembayaran cash on delivery (COD).
Selain itu, petani kopi di Tempur juga banyak yang mengakses KUR BRI. Kehadiran warung Yayuk memudahkan mereka untuk membayar angsuran. Saat musim panen kopi tiba, warung Yayuk juga menjadi andalan para pengepul kopi yang membutuhkan layanan tarik tunai.
“Transaksi Alhamdulillah sekarang semakin banyak. Saat musim panen kopi, musim hajatan warga, atau saat Idulfitri biasanya paling ramai. Ditambah sekarang ada pencairan uang PKH, antreannya kadang bisa 10 orang lebih,” ungkap Yayuk.
Namun, kesuksesan itu bukan berarti tanpa tantangan. Letak geografis Tempur yang berada di balik lereng Gunung Muria membuat akses sinyal sulit masuk ke desa. Belum lagi saat jaringan listrik padam, akses sinyal juga ikut terputus.
Yayuk pernah harus turun ke luar Desa Tempur agar transaksinya dapat terkirim setelah berkali-kali gagal. Kendala tersebut kemudian mendapat solusi berupa bantuan BRIsat atau satelit komunikasi dari BRI.
“Tapi BRIsat sekarang sudah tidak dipakai. Mesin EDC-nya sekarang diganti BRI dan menggunakan jaringan Wi-Fi,” ujar Yayuk.
Tidak hanya kendala sinyal, pada awal merintis usaha, jam operasional juga menjadi risiko yang harus ia hadapi. Karena Agen BRILink milik Yayuk merupakan satu-satunya di Desa Tempur, banyak warga yang datang hingga tengah malam untuk melakukan transfer atau tarik tunai.
Di tengah aktivitasnya sebagai guru, pada awalnya Yayuk hanya membuka layanan Agen BRILink setelah pulang mengajar.
“Namanya kebutuhan warga kadang mendesak. Pernah saat saya tidak di rumah sampai ditelepon berkali-kali, atau tengah malam masih ada yang datang ke rumah. Akhirnya sekarang toko saya atur buka pukul 08.00 sampai 21.00 WIB, dan ada satu karyawan yang menjaga,” ungkap Yayuk.
Zainuddin (35), salah satu petani kopi di Dukuh Duplak, mengatakan bahwa saat membutuhkan uang tunai, ia selalu datang ke warung milik Yayuk.
“Kalau ke bank unit jaraknya lumayan jauh, sekitar setengah jam. Jadi untuk kebutuhan sehari-hari, saya ambil uang tunai di tempat Mbak Yayuk karena lebih dekat,” ujar Zainuddin.
Terpisah, Kepala BRI Unit Kelet, Vero Afief Saputra, menyebut keberadaan Agen BRILink di daerah seperti Tempur menjadi solusi praktis. Warga tidak perlu jauh-jauh ke kantor unit, cukup datang ke warung agen untuk melakukan transaksi.
Namun, jauh dari kantor bukan berarti tanpa pendampingan. Vero menempatkan seorang mantri khusus yang bertugas menjaga ekosistem agen. Tugasnya merangkap sebagai konsultan, yakni membantu saat agen mengalami kendala sekaligus memastikan layanan tetap berjalan.
“Agent BRILink di Tempur sebenarnya sudah ada sejak 2014. Kami tidak menetapkan kriteria khusus untuk menjadi agen. Yang penting mau melayani warga. Sekarang kami terus mendorong penambahan agen baru,” jelas Vero melalui pesan tertulis.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Nugroho, mengatakan keberadaan Agen BRILink di Tempur menjadi bentuk nyata inklusi keuangan di daerah terpencil. Sebab, masyarakat yang terlayani jasa keuangan semakin banyak.
Selain itu, keberadaan agen juga meningkatkan literasi keuangan warga desa. Masyarakat menjadi terbiasa menggunakan layanan keuangan untuk berbagai kebutuhan, seperti membayar iuran dan kewajiban secara daring tanpa harus datang langsung ke kantor.
“Namun, inklusi keuangan harus dibarengi sosialisasi intensif agar warga mau memanfaatkannya. Akan lebih baik jika pemerintah melalui OJK juga ikut melakukan sosialisasi,” ujar Nugroho saat dihubungi melalui pesan tertulis.
Kini, warga Desa Tempur tidak lagi terisolasi dari layanan sistem perbankan nasional. Di tangan Yayuk, layanan keuangan bukan lagi soal jarak dan sinyal, melainkan tentang kepercayaan dan kemudahan yang hadir tepat waktu di tengah masyarakat.
Editor: Kholistiono

