Petani di Tempur Jepara Mulai Lirik Budidaya Tembakau

BETANEWS.ID, JEPARA — Petani di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, mulai melirik budidaya tanaman tembakau sebagai komoditas baru selain kopi.

Berada di ketinggian 500 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), Desa Tempur yang dijuluki Surga Tersembunyi di lereng Gunung Muria memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Jepara.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Makmur Desa Tempur, Saiful Anwar, mengatakan tembakau sebenarnya sudah sejak lama ditanam oleh petani di desa tersebut. Dahulu, tembakau ditanam di sela-sela tanaman kopi, tetapi hanya untuk konsumsi pribadi.

-Advertisement-

“Sudah sekitar 30 tahunan tembakau tidak ditanam lagi. Baru pada 2022 ada petani yang menanam, kemudian ada perwakilan dari perusahaan rokok yang melihat dan memberi bantuan bibit,” ungkap Saiful saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (18/6/2026).

Tanaman tembakau kemudian mulai dibudidayakan kembali. Awalnya hanya oleh kelompok kecil yang terdiri atas empat hingga lima petani. Pada 2025, jumlah petani yang berminat menanam tembakau semakin banyak hingga mencapai 50 orang.

Baca juga : Dihantam Cuaca Ekstrem, Hasil Panen Kopi Jepara Diprediksi Turun

Mereka tertarik menanam tembakau karena hasilnya dinilai lebih menjanjikan dibandingkan jagung pada lahan yang sama. Menurut Saiful, tembakau dapat tumbuh dengan baik di lahan dengan ketinggian antara 500 hingga 1.000 mdpl.

“Kalau dianalisis, dibandingkan jagung hasilnya lebih banyak tembakau, sehingga banyak petani yang kemudian berminat,” ujar Saiful.

Di lahan miliknya, Saiful menyebut hasil panen dari lahan dengan luas yang sama, yakni kurang dari seperempat hektare, hanya menghasilkan pendapatan sekitar Rp4,5 juta jika ditanami jagung. Namun, saat ditanami tembakau, hasil penjualannya mencapai Rp11 juta.

Untuk pemasaran, Saiful mengatakan hasil panen tembakau petani di Desa Tempur telah diserap oleh salah satu perusahaan rokok di Jepara. Perusahaan tersebut juga yang sejak awal memberikan bantuan benih kepada petani.

Dari sisi penjualan, sejak awal perusahaan selalu membeli tembakau petani dalam kondisi kering. Harganya berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram, menyesuaikan kualitas tembakau.

Untuk mendukung produksi tembakau kering, petani juga mendapat bantuan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara berupa tiga unit mesin perajang dan 250 lembar sasag (tampah bambu) untuk menjemur tembakau.

“Tahun ini juga sudah mulai penanaman lagi, cuma pembibitannya sedikit terkendala, tapi semoga hasilnya tetap bagus sampai panen,” pungkas Saiful.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER