Sudah Dua Bulan, Air Bersih di Kedungmalang Jepara Alami Kelangkaan

BETANEWS.ID, JEPARA – Tong air berwarna biru dengan berbagai kapasitas tampak menghiasi hampir setiap rumah warga di Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.

Keberadaan tong air tersebut menandakan desa yang terletak di sisi paling barat Jepara dan berbatasan dengan Kabupaten Demak itu sedang mengalami kelangkaan air bersih.

Kondisi tersebut memang rutin terjadi setiap tahun. Sebab, aliran air dari PDAM Jepara yang menjadi sumber air andalan warga belum bisa mengalir lancar hingga ke Desa Kedungmalang.

-Advertisement-

Saat ini, untuk mencukupi kebutuhan air, warga mendapat dropping atau kiriman air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) BPBD Jepara, Bagus Ari Wibowo, mengatakan dropping air dilakukan berdasarkan permintaan melalui surat yang dikirimkan oleh Kepala Desa Kedungmalang.

Setelah melakukan asesmen, BPBD kemudian mulai melakukan dropping air pada 5 Juni 2026. Dropping dilakukan dua kali dalam seminggu, yakni setiap Selasa dan Jumat.

Baca juga : Jepara Masuk Prioritas Pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi

“Untuk Desa Kedungmalang kemarin ada permintaan dropping. Saat ini kami mendukung dengan dropping dua kali dalam seminggu, setiap dropping sebanyak dua tangki,” kata Bagus saat ditemui di Kantor BPBD Jepara, Rabu (17/6/2026).

Selain dropping air, untuk membantu mengatasi kelangkaan air bersih di Desa Kedungmalang, BPBD juga menempatkan lima tandon air dengan kapasitas masing-masing 1.000 liter.

Tandon tersebut berfungsi sebagai tempat penampungan air yang didropping oleh BPBD sehingga warga dapat mengambil air langsung dari tandon yang telah disiapkan.

Bagus menyebutkan, total terdapat 870 kepala keluarga (KK) di Desa Kedungmalang yang mengalami kelangkaan air bersih. Karena seluruh rumah warga yang terdampak merupakan pelanggan PDAM Jepara, berdasarkan hasil koordinasi, BPBD hanya membantu dropping air di sebagian wilayah.

“Ada empat RT yang kami bantu dropping air dari BPBD, yakni RT 1 sampai RT 4 RW 2, dengan jumlah 384 KK,” ujar Bagus.

Terpisah, Toriqul Huda (42), warga RT 3 RW 2 Desa Kedungmalang, mengatakan sudah dua bulan aliran air dari PDAM di rumahnya tidak mengalir lancar. Dalam seminggu, air biasanya hanya mengalir dua kali dengan waktu yang tidak menentu.

Untuk kebutuhan mandi, Toriqul biasanya mengandalkan aliran air dari PDAM. Jika tidak mengalir, ia mengambil air dari sumur musala yang berada di dekat rumahnya.

Sementara itu, untuk kebutuhan memasak dan minum, ia membeli air galon dengan harga Rp5.000 hingga Rp6.000 per galon. Satu galon air biasanya mampu bertahan selama satu hingga dua hari.

“Kalau sekarang untuk kebutuhan air sudah jarang mengambil dari sumur musala, lebih menunggu kiriman air dari BPBD,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut sudah rutin terjadi setiap tahun. Karena itu, ia berharap ke depan aliran air di desanya dapat mengalir dengan lancar.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER