BETANEWS.ID, JEPARA – Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mudhofir, mengatakan serapan pupuk subsidi di Jepara menempati urutan tertinggi kedua di Jawa Tengah.
Berdasarkan data, realisasi serapan pupuk subsidi di Jepara hingga Mei 2026 telah mencapai 61,7 persen atau 15,70 juta kilogram dari total alokasi sebesar 25,45 juta kilogram.
“Serapan pupuk subsidi di Jepara ini tertinggi kedua se-Jawa Tengah,” ujar Mudhofir kepada Betanews.id, Rabu (10/6/2026).
Hingga Mei 2026, serapan pupuk bersubsidi di Jepara didominasi pupuk Urea dan NPK. Pupuk Urea telah terserap sebanyak 7,48 juta kilogram dari alokasi 12,3 juta kilogram atau 60,85 persen. Sementara itu, pupuk NPK mencapai 8,2 juta kilogram dari total alokasi 13 juta kilogram atau setara 63,16 persen.
Untuk pupuk ZA, baru terserap 5,9 ribu kilogram dari alokasi 101,6 ribu kilogram atau 5,82 persen. Adapun pupuk organik dengan alokasi 50 ribu kilogram dan pupuk NPK Kakao sebanyak 1,65 ribu kilogram hingga saat ini belum terealisasi.
“Serapan di masing-masing wilayah atau kecamatan ini berbeda-beda, sehingga kemarin kami melakukan pergeseran alokasi pupuk,” ujar Mudhofir.
Baca juga : Jepara Targetkan 88 Persen dari 25 Ribu Hektare Sawah Menjadi Lahan Dilindungi
Pergeseran tersebut dilakukan, misalnya, pada daerah yang serapan pupuk NPK-nya tinggi, tetapi serapan Ureanya rendah. Dengan demikian, alokasi pupuk Urea dari wilayah yang penyerapannya rendah dapat dialihkan ke wilayah yang penyerapannya tinggi.
Jika dilihat berdasarkan kecamatan, serapan pupuk di Kecamatan Mlonggo menjadi yang tertinggi, yakni 81,39 persen untuk Urea dan 93,72 persen untuk NPK.
Sementara itu, wilayah dengan serapan terendah adalah Kecamatan Karimunjawa, yakni baru mencapai 14,01 persen untuk Urea dan 14,73 persen untuk NPK.
Mudhofir melanjutkan, penggunaan pupuk organik oleh petani di Jepara masih rendah karena petani telah terbiasa menggunakan pupuk kimia yang dinilai mampu mempercepat pertumbuhan tanaman.
“Biasanya yang memakai pupuk organik ini petani milenial. Mereka rata-rata menanam tanaman hortikultura,” katanya.
Mudhofir mengatakan, tantangan dalam penyerapan pupuk subsidi saat ini adalah distribusi pupuk yang belum sepenuhnya mampu memenuhi permintaan. Kondisi tersebut menimbulkan persepsi di kalangan petani bahwa pupuk mengalami kelangkaan.
“Karena saat musim tanam serentak, pupuk yang datang langsung habis. Untuk melayani pembelian berikutnya membutuhkan pengajuan lagi. Akibatnya, petani menganggap pupuk tidak tersedia. Itu yang masih menjadi kendala,” pungkasnya.
Editor: Kholistiono

