BETANEWS.ID, SEMARANG — Asap kayu bakar mengepul tipis dari lapak pedagang Serabi Ngampin yang berada di jalur utama Semarang–Yogyakarta, tepatnya di Kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.
Asap itu berasal dari tungku yang digunakan untuk membakar serabi di atas wajan berbahan tanah liat. Terdapat 78 lapak pedagang yang saling berjejer di sisi kanan dan kiri jalan.
Lapak mereka sederhana. Di samping tungku, terdapat meja yang digunakan untuk meletakkan tenong, wadah berbahan anyaman bambu yang berfungsi menyimpan serabi agar tetap hangat.
Di beberapa lapak pedagang, meja itu tidak hanya berisi tenong, tetapi juga terdapat stan akrilik yang menampilkan barcode QRIS sebagai sistem pembayaran digital.
Salah satunya milik Erna Yufitasari (42), Ketua Paguyuban Serabi Ngampin yang berjualan di lapak nomor 16. Di lapak milik Erna, QRIS tidak hanya digunakan untuk membayar serabi secara digital, tetapi juga pernah berfungsi layaknya ATM dadakan untuk menukar uang tunai.
“Pernah itu, habis bayar serabi, ‘Bu saya minta uang cash ya, ini sudah tak transfer’. Katanya daripada ambil di ATM kejauhan,” tutur Erna menirukan ucapan pembeli saat ditemui di lapaknya pada Sabtu (16/5/2026).
Nominal uang yang ditransfer saat itu sebesar Rp100 ribu. Sebagai pedagang, Erna tidak bisa menolak. Hal itu ia anggap sebagai bentuk pelayanan kepada pembeli.

Momen itu memang hanya satu kali dialami Erna, namun masih ia ingat hingga sekarang. Terlebih, para pedagang Serabi Ngampin yang sudah berjualan sebelum tahun 1990-an selama ini hanya bertransaksi dengan sistem tunai.
Perubahan itu terjadi sekitar Oktober 2025 lalu, saat ada sosialisasi penggunaan QRIS oleh BRI Unit Ambarawa, Kabupaten Semarang. Saat itu, sosialisasi diberikan langsung kepada paguyuban. Namun, karena belum ada yang mendaftar, sosialisasi dilakukan secara door to door oleh pegawai BRI dengan datang langsung ke lapak pedagang.
“Tapi pada saat itu juga banyak yang tidak minat, karena pertama harus buka rekening. Mikirnya uang Rp7 ribu, harga semangkuk Serabi Ngampin, kok dimasukkan ke ATM. Kedua, banyak lansia yang tidak punya HP,” kata Erna.
Namun, lambat laun, Erna mengatakan banyak pedagang yang kini mulai tertarik menggunakan QRIS. Salah satunya Rogimah (45), pedagang yang berjualan di lapak nomor 10. Rogimah sudah berjualan serabi sejak tahun 2005, meneruskan usaha dari ibunya. Namun, ia baru tertarik menggunakan QRIS sekitar tiga bulan lalu.
Rogimah akhirnya memutuskan menggunakan QRIS karena banyak pembeli yang pindah ke pedagang lain saat tidak membawa uang tunai. Rogimah sebenarnya kurang nyaman dengan pembayaran menggunakan QRIS karena saat membutuhkan modal, ia harus mengambil uang di ATM. Beruntung, ada anaknya yang membantu mengambilkan uang, termasuk saat pembuatan rekening untuk menggunakan QRIS.
“Pakai QRIS karena pembeli ada yang tanya. Dulu saat belum pakai, pembeli yang tidak bawa cash pindah ke pedagang lain yang ada QRIS-nya,” ujar Rogimah.
Berbeda dengan Rogimah, Risa Dwi Ariyanti (22), pedagang yang berjualan di lapak nomor 44 mengatakan, ia memilih menggunakan QRIS agar tidak kesulitan memberikan uang kembalian kepada pembeli.
Risa baru sekitar satu bulan menggunakan QRIS, berbarengan dengan dirinya yang kembali berjualan serabi untuk membantu perekonomian keluarga. Dari jumlah serabi yang ia jual setiap hari, sekitar setengahnya dibayar lewat QRIS.
“Pakai QRIS soalnya biar tidak susah kalau pas tidak punya uang untuk kembalian. Cari uang receh kan agak susah,” ujarnya.
Manajer Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang, Eka Agus Purnama menyebutkan, dari 78 pedagang Serabi Ngampin yang aktif berjualan, sebanyak 45 pedagang sudah terdaftar sebagai pengguna QRIS BRI.
“Dari 45 pedagang yang sudah memiliki QRIS, rata-rata usianya 35 tahun ke atas. Selain sosialisasi QRIS yang harapan kita semakin banyak pedagang yang memakai, ke depan kita juga akan mengadakan pelatihan manajemen keuangan sederhana agar ada pemisahan uang untuk usaha dan kebutuhan rumah,” katanya.
Di lapak Serabi Ngampin, QRIS memang belum sepenuhnya menggantikan uang tunai. QRIS datang secara perlahan untuk mengenalkan pembayaran digital kepada para pedagang yang sudah puluhan tahun menjaga kelestarian makanan tradisional khas Kelurahan Ngampin.
Editor: Kholistiono

