Kisah Inspiratif Perempuan Jepara, Dari Dipandang Sebelah Mata hingga Tembus Pasar Dunia

BETANEWS.ID, JEPARA – Terbiasa bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta selama 13 tahun, namun harus resign karena pemutusan hubungan kerja (PHK), membuat Effy Retno Indarwati (37) tidak ingin menyerah.

Passion-nya di bidang pakaian dan berbekal keterampilan menjahit selama satu tahun saat masih bekerja sebagai karyawan, menjadi modal bagi Effy dalam merintis usaha di bidang pakaian anak.

Usaha itu ia jalankan tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu dalam mendampingi tumbuh kembang putrinya.

-Advertisement-

Sebagai perempuan yang merintis brand lokal pakaian anak, usaha yang dijalankan Effy tidak selalu mudah. Stigma terhadap brand lokal menjadi tantangan bagi Effy, namun sekaligus menjadi titik balik bagi perempuan asal Desa Srobyong, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara itu untuk membuktikan kualitas.

“Awal-awal merintis dulu sempat dipandang sebelah mata. Apa sih Kenes, merek lokal. Peminat dari daerah sendiri malah kurang,” ujar Effy saat ditemui Betanews.id beberapa waktu lalu.

Kisah serupa namun sedikit berbeda juga dialami Maria Leoni (38). Terbiasa menjadi perempuan pekerja, namun harus resign setelah menikah dan melahirkan, membuat Leoni tidak bisa hanya berdiam diri.

Awalnya ia sempat ingin bekerja kembali di sektor formal. Namun, suaminya tidak mengizinkan. Usahanya untuk mendaftar calon pegawai negeri sipil (CPNS) juga belum berhasil.

Leoni akhirnya memutuskan fokus mengembangkan usaha kain tenun yang dirintis suaminya sejak masih kuliah. Usaha itu bernama Kain Ratu. Di tangan Leoni, Kain Ratu kini mampu menembus pasar ekspor di 12 negara.

Namun, kesuksesan itu tidak diraih secara instan. Leoni memiliki tekad untuk bisa menembus pasar ekspor karena sempat mendapat respons yang kurang baik saat mengenalkan produknya ke pihak dinas.

Baca juga : Dari Lapak ke Layar, Pelaku UMKM Jepara Diajak Naik Kelas Lewat Konten Digital

“Niat saya waktu itu sebenarnya cuma mau mengenalkan kalau di Jepara ada merek Kain Ratu. Tapi saat itu saya malah seperti dipingpong. Akhirnya saya berpikir, kok di lokal penerimaannya begini ya. Berarti pasar saya harus bisa lebih luas,” tutur Leoni saat ditemui di tokonya di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan.

Sama seperti Effy, Leoni juga berusaha menjalankan bisnisnya tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu.

Titik balik dua perempuan yang memilih berkiprah sebagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) itu berasal dari program pelatihan bagi UMKM yang mereka ikuti.

Leoni bercerita, ia sudah beberapa kali mengikuti pelatihan dari berbagai instansi. Namun, ia lebih memilih pelatihan yang diadakan instansi tingkat pusat karena kecewa dengan respons dari instansi tingkat daerah.

Dari pelatihan itu, Leoni berhasil menembus pasar ekspor untuk pertama kalinya secara mandiri pada tahun 2020. Setelah itu, Leoni semakin aktif mengikuti berbagai pelatihan.

Pada tahun 2023, Rumah BUMN BRI Jepara untuk pertama kalinya mengadakan program BRIncubator. Karena jangkauan Rumah BUMN BRI cukup luas, Leoni akhirnya mendaftar.

Leoni lolos kurasi dan terpilih sebagai salah satu dari 25 pelaku UMKM yang mengikuti program BRIncubator batch pertama.

“Materi yang paling saya ingat itu soal packaging produk dan value produk. Value produk itu penting untuk ditingkatkan agar produk kita bisa berkembang,” ujar Leoni mengingat salah satu materi yang ia dapatkan.

Sama seperti Leoni, Effy juga merupakan peserta BRIncubator batch II. Ia menjadi salah satu dari 50 pelaku UMKM yang lolos kurasi pada batch tersebut.

Menurutnya, saran dan kritik yang diberikan para mentor membuat usaha yang dijalankannya menjadi lebih terarah.

“Ilmu yang saya dapat dari program BRIncubator sangat menunjang bisnis saya di Kenes. Bisnis saya jadi lebih terarah. Saya jadi punya planning, tahun ini harus apa, tahun depan harus bagaimana, itu sudah ada rencananya,” ujar Effy.

Kini, usaha yang mereka jalankan juga mampu membawa dampak bagi warga sekitar. Leoni bermitra dengan 20 pengrajin tenun di sekitar rumahnya dan mempekerjakan tiga orang karyawan untuk menjaga toko. Sementara Effy ikut memberdayakan lima penjahit rumahan dan satu karyawan di bagian toko.

Pengelola Rumah BUMN BRI Jepara, Ahmad Aifal Muallif mengatakan, dalam setiap sesi pelatihan yang diadakan, jumlah pelaku UMKM perempuan lebih mendominasi.

“Sebanyak 90 persen peserta lebih banyak perempuan, sisanya 10 persen laki-laki,” sebut Aifal.

Materi yang diberikan meliputi membangun pondasi usaha agar mampu bertahan, memahami kekurangan dan kelebihan produk, hingga cara membangun branding, berjualan, dan mencari mitra usaha.

Mengutip situs Komdigi RI, berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah perempuan yang menjadi pelaku UMKM mencapai 64,5 persen dari total 65,5 juta UMKM di Indonesia. Jumlah itu setara dengan 37 juta orang.

Dari jumlah tersebut, kontribusi perempuan terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 9,1 persen. Bahkan sekitar 5 persen di antaranya sudah mampu menembus pasar ekspor.

Dosen Magister Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, Mohamad Rifqy Roosdhani mengatakan, peran program pelatihan bagi pelaku UMKM sangat penting.

Hanya saja, dalam pelaksanaannya, UMKM perlu dibedakan berdasarkan lamanya usaha dibangun serta omzet yang dihasilkan setiap bulan.

“Pemisahan itu penting agar usaha yang masih kecil tidak merasa ketinggalan, dan usaha yang sudah bertumbuh tidak merasa mengulang materi,” jelas Rifqy.

Dari pengalamannya menjadi mentor dalam kegiatan pelatihan bagi pelaku UMKM di Jepara, lebih dari 50 persen peserta bergerak di sektor food and beverage (F&B) atau makanan dan minuman, dengan jumlah perempuan sebagai pelaku usaha yang lebih mendominasi.

Menurut Rifqy, kehadiran perempuan sebagai pelaku UMKM memberi corak tersendiri dalam usaha yang dijalankan. Namun, ada satu kelemahan, yakni pada sisi manajemen keuangan.

“Sehingga saat pelatihan biasanya saya tekankan agar ibu-ibu ini bisa memisahkan mana uang untuk modal dan mana uang untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Rifqy.

Dari kisah Effy dan Leoni, mereka mengatakan bahwa bagi perempuan, menikah dan menjadi ibu tidak menghalangi langkah untuk tetap merajut mimpi. Dukungan dari suami juga menjadi penyemangat yang membuat mereka tetap menjadi perempuan yang berdaya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER