BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus kembali digelar pada Sabtu (28/3/2026). Kegiatan tahunan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga terbukti mampu menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM.
Anggota DPRD Kudus dari Fraksi Gerindra, Galih Saputro, menilai Tradisi Bulusan memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Selain sarat nilai budaya, kegiatan ini juga mampu menarik banyak pengunjung yang berdampak langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi warga.
Galih yang juga merupakan warga setempat mengatakan, pelaksanaan tahun ini terasa lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari kebijakan panitia yang menggratiskan tiket masuk bagi pengunjung.
“Untuk tahun ini memang berbeda karena kita gratiskan tiket masuk. Harapannya ke depan bisa tetap gratis, tapi tetap akan kita evaluasi,” ujar Galih saat ditemui di lokasi acara.
Menurutnya, meningkatnya jumlah pengunjung turut berdampak pada geliat UMKM di sekitar lokasi kegiatan. Ratusan lapak pedagang yang disediakan panitia dilaporkan terisi penuh oleh pelaku usaha lokal.
Ia menyebut, jumlah UMKM yang berpartisipasi tahun ini bahkan lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa Tradisi Bulusan mampu menjadi ruang ekonomi bagi masyarakat.
“Lapak yang kita sediakan hampir ratusan dan semuanya terisi. Ini menunjukkan antusiasme pelaku UMKM sangat tinggi,” jelasnya.
Baca juga: Tradisi Bulusan Kudus Kembali Digelar, Ribuan Warga Berebut Gunungan
Galih menambahkan, keberadaan UMKM dalam kegiatan tradisi seperti ini perlu terus didukung agar mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Ia juga menegaskan bahwa sektor budaya dan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Selain itu, pihaknya juga mendorong adanya sinergi antara pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas terkait dalam pengembangan tradisi tersebut. Langkah ini dinilai penting agar pelaksanaan ke depan bisa lebih tertata dan memberikan dampak yang lebih luas.
“Ke depan kita akan terus koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk dinas pariwisata dan Forkopimda. Tujuannya agar pelaksanaan Tradisi Bulusan semakin baik dan memberikan manfaat maksimal,” ungkapnya.
Ia juga memastikan bahwa kebijakan penggratisan tiket tidak berdampak pada pendapatan daerah. Menurutnya, potensi ekonomi tetap bisa didorong melalui aktivitas UMKM yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Tradisi Bulusan sendiri diisi dengan berbagai rangkaian acara, mulai dari kirab, pemberian makan bulus, hingga pentas seni dan pertunjukan wayang kulit. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk datang dan berpartisipasi.
“Dengan potensi yang dimiliki, Tradisi Bulusan diharapkan dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Dukungan berbagai pihak dinilai menjadi kunci agar tradisi ini tetap hidup dan berkembang di masa mendatang,” harapnya.
Editor: Kholistiono

