BETANEWS.ID, JEPARA– Menjelang pelaksanaan tradisi pesta lomban, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menggelar kirab kerbau sepanjang satu kilometer pada Jumat, (27/3/2026).
Pelaksanaan kirab tersebut menjadi salah satu rangkaian tradisi pesta lomban di Jepara yang menjadi pembeda dibanding tahun sebelumnya.
Kerbau bule dengan berat sekitar 350 kg itu diarak dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Batu hingga Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jobokuto, Kecamatan Jepara.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo bersama Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar didampingi jajaran kepala Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait ikut berjalan kaki mengikuti proses kirab dengan waktu sekitar 50 menit.
Selama perjalanan kirab, masyarakat terlihat menyambut dengan antusias untuk melihat kirab kerbau bule.
Sesampainya di RPH, kerbau kemudian disembelih. Kepala Kerbau itu akan dijadikan sebagai salah satu sesaji yang akan dilarung dalam miniatur kapal pada besok pagi, Sabtu (28/3/2026) di perairan dekat Pulau Panjang. Sedangkan bagian tubuhnya yang lain akan dimasak dan disajikan untuk masyarakat.
Baca juga : Dibuat dengan Ritual Khusus, Ini Tata Cara Pembuatan Miniatur Kapal Tradisi Lomban di Jepara
Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan ia sengaja menghadirkan kembali kegiatan kirab kerbau yang sudah lama tidak diadakan. Kemudian terkait pemilihan kerbau bule yang berbeda dari biasanya, Wiwit berharap perbedaan itu bisa berdampak pada semakin melimpahnya hasil tangkapan ikan oleh nelayan.
“Kirab ini juga sesuai tagline kita Jepara Mulus, yang salah satunya lestari, jadi kita ingin melestarikan tradisi. Alhamdulillah antusias masyarakat juga luar biasa, kerbaunya mulus katanya,” ujar Wiwit usai penyembelihan kerbau di RPH Jobokuto.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Ali Hidayat mengatakan dalam pelarungan kepala kerbau, jenis kerbau yang digunakan biasanya memang berkulit hitam.
“Tapi kita sudah koordinasi dengan sesepuh di Ujung Batu, mereka sudah oke dan mengiyakan, akhirnya kita pilih menggunakan kerbau bule,” katanya.
Ali menyebutkan kerbau bule itu dibeli dengan harga Rp50 juta dari Petinggi Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.
Pelaksanaan kirab kerbau menurut Ali sebenarnya juga sebagai upaya untuk menarik wisatawan serta untuk memperlihatkan kepada masyarakat, bahwa dalam kegiatan pelarungan tidak hanya menggunakan bagian kepala kerbau saja.
“Untuk menarik wisatawan, kami ada ide sebelum kerbau disembelih di kirab dulu serta untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa ada kerbau yang di sembelih, tidak cuma kepalanya saja kita larung,” pungkas Ali.
Editor: Kholistiono

