31 C
Kudus
Kamis, Februari 19, 2026

Melihat dari Dekat Tradisi Tabuh Bedug Dandangan Sebagai Penanda Awal Ramadan

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah orang mengenakan baju putih serta ikat kepala terlihat berbondong-bondong menempati tempat yang sudah di sediakan di area Menara Kudus, Rabu (18/2/2026) sore. Tak lama kemudian tampak rombongan berjalan kaki menuju sebuah bangunan untuk menabuh bedug yang berada di atas Menara tersebut.

Acara itu merupakan sebuah acara Tabuh Bedug Dandangan sebagai penanda ataupun peristiwa pengumuman jatuhnya awal bulan Ramadan tahun ini. Tradisi turun temurun dari Kanjeng Sunan Kudus itu masih dilestarikan dan dijaga hingga sekarang.

Pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Ahmad Arinal Haq menyampaikan, dulu setiap akhir bulan Sya’ban Kanjeng Sunan Kudus selalu mengumumkan jatuhnya awal bulan Ramadhan kepada santri maupun masyarakat sekitar Menara Kudus, dengan tabuh bedug. Maka dari itu tradisi itu kita jaga hingga kini.

-Advertisement-

Baca juga: 523 Jiwa di Brebes Terdampak Tanah Gerak, Gubernur Luthfi Pastikan Percepatan Penanganan

“Mengumumkannya dari dulu memang di atas menara. Masyarakat berbondong-bondong menyaksikan pangumuman tersebut, dan masyarakat berjualan di sekitaran menara menjelang puasa,” katanya.

Tidak hanya pengumuman secara lisan, Kata dia, pengumuman yang dilakukan adalah menabuh bedug di Menara Kudus itu berbunyi Ndang-ndang, hingga tradisi tersebut kini dinamakan tradisi Dandangan. Hal itu dilakukan setiap setahun sekali, untuk memberi tahu kepada santri maupun masyarakat sekitar.

Sekertaris Daerah Kabupaten Kudus, Revlisianto Subekti yang mewakili Bupati Kudus dalam sambutannya menyampaikan, bahwa agama dan budaya di Kabupaten Kudus merupakan dua hal yang saling berkaitan serta saling mengingatkan. Dua hal tersebut menunjukan bahwa itu merupakan jati diri Kudus yang selalu menjunjung tinggi toleransi antarberagama.

“Tabuh Bedug Dandangan ini bagian dari panggilan untuk berbenah diri dengan membersihkan diri, menjaga hati, serta meningkatkan ketaqwaan dan keimanan diri. Dan doa yang dipanjatkan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus turut memberi apresiasi setinggi-tingginya dan berterimakasih kepada pihak yayasan yang telah melestarikan budaya setiap tahunnya.

Salah satu pengunjung, Tasya Kurnianingsih (19) mengaku pertama kalinya datang untuk melihat tradisi tabuh bedug tersebut. Awalnya, ia berniat untuk datang ke Dandangan, namun karena ada prosesi Tabuh Bedug Dandangan ia bersama temannya sengaja datang ke sana karena penasaran.

“Kesannya ya unik, karena baru pertama kali ini melihat tradisi ini,” kata warga Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu.

Baca juga: Resepsi HPN 2026 di Kudus, Insan Pers Didorong Perkuat Verifikasi di Tengah Gempuran AI

Senada dengan Tasya, Gozali yang datang dari Semarang mengaku terkesan dengan adanya tradisi itu. Menurutnya, selain Menara Kudus sebagai bangunan yang ikonik Kota Kretek, tabuh bedug yang dilaksanakan di Menara itu sebagai penanda awal Ramadan 1447 Hijriah.  

“Sangat berkesan ya, karena ini momentum satu tahun dalam sekali,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER