BETANEWS.ID,KUDUS-Tanggul Sungai Wulan yang berada di titik Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan,Kudus, kembali mengalami sleding atau longsor. Kali ini titik tanggul sleding berada di gang 2, berbeda dengan longsoran sebelumnya yang berada di titik Undaan Lor Gang 1.
Tanggul sleding baru diketahui warga dan dilaporkan ke pihak terkait pada 29 Januari 2026. Namun, penanganan darurat baru dilakukan Senin (16/2/2026) malam, mengingat debit air di Sungai Wulan saat ini mulai naik, akibat kiriman air dari dulu.
Camat Undaan Arief Budiyanto menyampaikan, kejadian tanggul sleding di daerahnya bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, di titik lain yakni di Gang 1 Undaan Lor, tanggul juga mengalami longsor dan sudah dilakukan penanganan.
Baca juga: Bendung Wilalung Berstatus Awas, Pintu Arah Sungai Juwana Dibuka 20 Cm
“Tanggul saat ini sudah mulai tertangani secara darurat. Kemungkinan nanti sore pihak BBWS Pemali Juwana akan mengirimkan satu alat berat berupa Long ARM, untuk menuntaskan penanganan tanggul agar lebih kuat,” katanya saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).
Ia menjelaskan, sledingan tanggul dengan panjang sekitar 20 meter dan kedalaman longsor sekitar 1 meter. Menurutnya, penanganan tersebut baru dilakukan, karena air kiriman dari hulu sampai di Sungai Wulan diperkirakan akan mencapai 1.000 meter kubik per detik lebih.
“Saat ini dengan debit air Bendung Klambu mencapai 950 meter kubik per detik per pukul 9.00 WIB, kami laporkan bahwa tanggul masih aman terkendali. Maka dari itu kami lakukan pantauan secara periodik dan melaporkan ke pihak terkait agar tanggul segera tertangani,” sebutnya.
Ia menyebut, bahwa faktor terjadi tanggul sleding di sepanjang tanggul disebabkan karena banyaknya pohon pisang yang tumbuh, baik secara liar maupun ditanami warga. Oleh karena itu pihaknya akan melakukan perampasan dan mengimbau masing-masing desa untuk membuat perda tentang menanam pohon pisang di sepanjang tanggul.
“Karena dengan adanya pohon pisang itu membuat tanggul menjadi rawan akan longsor. Pohon pisang yang busuk membuat tanah menjadi gembur, sehingga mengakibatkan tanggul rawan longsor,” jelasnya.
Baca juga: Baru Awal 2026, Investasi Emas Warga Kudus Tembus 4,8 kilogram
Ia menambahkan, ketika aturan itu sudah dibuat dan masih ada warga yang masih melakukan penanaman pohon pisang di sepanjang tanggul biar sangksi sosial yang berjalan. “Karena peraturan itu atas kesepakatan bersama,” imbuhnya.
Salah satu anggota Destana, Yoto Suyono mengaku, mendapati tanggul sleding pada 29 Januari 2026 lalu. Kemudian ia langsung melaporkan kejadian tersebut ke pihak terkait dalam hal ini BBWS Pemali Juwana, agar tanggul segera mendapat penanganan.
“Kami laporkan bahwa tanggul mengalami penurunan muka tanah sepanjang 20 meter. Kemudian berselang satu pekan atau 8 Februari 2026, tanggul terjadi patah sampai kedalaman 1,5 meter. Alhamdulillah tadi malam mulai dilakukam secara darurat dan kemungkinan nanti BBWS Pemali Juwana akan menerjunkan alat berat yang lebih besar untuk melakukan penanganan dengan pancang,” terangnya.
Editor: Kholistiono

