BETANEWS.ID, PATI – Memasuki pekan kedua cuaca ekstrem, Kabupaten Pati masih dikepung banjir yang melumpuhkan sektor pertanian dan ekonomi. Merespons kondisi darurat tersebut, Relawan Kemanusiaan Kastomo (RAKKA) bersama Panji Bangsa, badan otonom baru Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Pati, turun langsung menyalurkan bantuan logistik ke delapan desa terdampak di Kecamatan Jakenan, Minggu (18/1/2026).
Aksi kemanusiaan ini dikomandoi langsung oleh Kastomo, Ketua DKC Panji Bangsa sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Pati. Sebanyak 100 dus mi instan, 50 dus air mineral, 100 liter minyak goreng, dan 100 kg gula pasir didistribusikan ke titik-titik parah seperti Desa Kedungmulyo, Ngastorejo, hingga Kalimulyo.
Baca Juga: Banjir Bandang Kembali Hantam Rumah Kholifah, Trauma Lama Anak-anak Kembali Terbuka
“Setidaknya ada delapan titik terdampak banjir di Kecamatan Jakenan yang menjadi sasaran kami untuk menyalurkan bantuan logistik. Yaitu di Kedungmulyo, Ngastorejo, Sonorejo, Tondomulyo, Sidoarum, Karangrowo, Bungasrejo dan Kalimulyo,” ujar Kastomo.
Pada kesempatan itu, dirinya juga menyampaikan, bahwa banjir yang menggenang selama satu minggu terakhir di sejumlah wilayah di Kabupaten Pati telah memberikan dampak destruktif.
Menurutnya, data lapangan menunjukkan kerugian besar di bidang infrastruktur, kesehatan, dan khususnya pertanian.
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Di seluruh Kabupaten Pati, ada sekitar 4.400 hektare lahan pertanian yang gagal panen (puso). Khusus di Kecamatan Jakenan saja, diperkirakan mencapai 1.000 hektare,” ujar Kastomo di sela-sela pembagian bantuan.
Di tengah kepungan air, Kastomo menyoroti pola banjir tahunan yang seolah menjadi “agenda rutin” tanpa penyelesaian dari pemerintah. Sejak banjir besar tahun 2014, tercatat sudah lima kali banjir serupa melanda Pati dalam satu dekade terakhir.
“Pemerintah daerah maupun pusat hingga saat ini belum punya solusi penanganan yang konkret untuk menghindari bencana musiman ini. Kita tidak bisa terus-menerus begini,” tegasnya.
Kastomo mendesak adanya koordinasi lintas sektor yang melibatkan ilmuwan dan masyarakat untuk membedah akar masalah di Sungai Silugonggo. Katanya, beberapa poin krusial yang perlu dikaji adalah, pendangkalan sungai yang sudah sangat parah, tambatan perahu di muara yang diduga menghambat aliran air hingga kondisi embung kembang kempis dan sumbatan pada anak sungai.
Baca Juga: Banjir Bandang Kembali Hantam Rumah Kholifah, Trauma Lama Anak-anak Kembali Terbuka
“Apakah harus normalisasi total atau pembuatan tanggul beton di sepanjang Sungai Silugonggo? Ini butuh penyelesaian yang jelas. Banjir ini seharusnya bisa dikelola agar menguntungkan, bukan malah memusingkan rakyat setiap tahun,” tambah politisi PKB tersebut.
Menutup keterangannya, Kastomo mengajak seluruh warga Pati untuk memperkuat solidaritas dan gotong royong membantu wilayah yang terdampak paling parah. Ia berharap genangan air segera surut agar roda perekonomian dan aktivitas petani kembali normal.
Editor: Haikal Rosyada

