BETANEWS.ID, PATI – Gelaran Liga Desa Kabupaten Pati 2025 resmi ditutup dengan laga final yang berlangsung di Stadion Joyokusumo, Selasa (30/12/2025). Pertandingan pamungkas itu menjadi klimaks dari kompetisi sepak bola antardesa yang digadang-gadang sebagai ajang bergengsi tingkat kabupaten.
Di partai puncak, Persewo Wonorejo Tlogowungu tampil sebagai kampiun setelah menundukkan Persip Pohgading Gembong dengan skor tipis 1-0. Kemenangan tersebut memastikan Persewo naik ke podium juara, sementara Persip harus puas sebagai runner-up.
Baca Juga: Polisi Klaim Kriminalitas di Pati Turun, 54 Kasus Menonjol Diungkap
Turnamen yang digelar oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispermades) Kabupaten Pati ini diikuti 14 tim perwakilan dari 14 kecamatan. Liga Desa mulai bergulir sejak 14 Desember 2025 dan dibuka langsung oleh Wakil Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra.
Namun, euforia kompetisi rupanya tak sepenuhnya berujung manis. Alih-alih menuai apresiasi, Liga Desa Kabupaten Pati justru menuai sorotan publik. Hadiah yang diterima para pemenang dinilai jauh dari ekspektasi untuk sebuah turnamen level kabupaten.
Polemik tersebut bahkan ramai diperbincangkan di media sosial. Tak sedikit warganet yang membandingkan penyelenggaraan Liga Desa di Pati dengan turnamen serupa di Kabupaten Kudus yang dinilai lebih layak dari sisi penghargaan.
Hal ini karena, hadiah yang diterima oleh pemenang Liga Desa di Pati hanya berupa piala dan dua kardus camilan. Sedangkan, untuk Kabupaten Kudus ada uang pembinaan sebesar Rp 5 juta.
“Memory dan story liga desa 2025. Perbedaan yang sangat jauh dari sisi pengelolaan dan hadiah. Juara liga desa Pati cukup piala dan 2 kardus cheese Snack. Juara liga Kudus piala dan uang pembinaan 5 juta rupiah” tulis akun Facebook Lien Susanto yang juga menyertakan foto penyerahan hadiah untuk juara Liga Desa di Pati dan juga Kudus.
Unggahan tersebut lantas mendapatkan beragam tanggapan dari netizen. Rata-rata mereka menyanyangkan, karena gelaran liga tersebut levelnya kabupaten. Sehingga tidak pantas, kalau hadiahnya hanya berupa piala dan camilan.
Kekecewaan juga diungkapkan oleh M. Choirul Umam, Offiscial Persip Pohgading Gembong. Ia mengaku kecewa setelah timnya yang finis sebagai juara dua hanya menerima piala dan dua kardus makanan ringan.
“Setelah menerima hadiah, kami menanyakan ke panitia soal uang pembinaan. Jawabannya tidak ada. Padahal saat technical meeting yang hadir itu Pak Sekdes, dan informasinya ada uang pembinaan,” ujarnya.
Menurut Umam, ketidaksesuaian antara kesepakatan awal dan realisasi di akhir turnamen membuat timnya merasa dirugikan.
“Makanya setelah final, Pak Sekdes menanyakan langsung ke panitia. Tapi dari panitia bilang memang tidak ada (uang pembinaan). Kami sangat kecewa,” ungkapnya.
Ia pun memastikan Persip Pohgading Gembong tidak akan ambil bagian pada Liga Desa tahun depan apabila sistem dan transparansi hadiah tidak dibenahi.
“Tahun depan tidak ikut lagi. Hadiah yang didapat tidak sesuai dengan kesepakatan awal,” tambahnya.
Menanggapi polemik yang mencuat, Kepala Dispermades Kabupaten Pati, Tri Haryama, mengakui bahwa pada Liga Desa tahun ini memang tidak tersedia anggaran untuk hadiah berupa uang pembinaan.
“Memang ramai di media sosial soal hadiah dua dus ciki itu. Tapi kenyataannya memang tidak ada anggaran. Hadiahnya hanya piala, tidak ada uang pembinaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, makanan ringan yang diterima para pemenang bukanlah bagian dari hadiah resmi turnamen.
Baca Juga: Puluhan Pelajar Kayen Kampanyekan Pelestarian Kendeng Lewat Jelajah Alam
“Ciki itu tambahan, bantuan dari pihak sponsor. Kalau tidak salah dari perusahaan Garuda. Yang lebih paham panitia. Tapi dari kami memang tidak ada hadiah uang, karena anggarannya sangat terbatas,” katanya.
Tri Haryama juga menegaskan bahwa Liga Desa Kabupaten Pati 2025 diikuti oleh 14 desa dari 14 kecamatan, sebagai upaya pemerataan partisipasi dan pembinaan olahraga di tingkat desa.
Editor: Haikal Rosyada

