Sebelum Meninggal, Perempuan Asal Kerso Jepara yang Mayatnya Dibongkar Ternyata Sempat Dijemput Paksa 

BETANEWS.ID, JEPARA – Kasus meninggalnya seorang perempuan asal Desa Kerso, RT 5 RW 1, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara yang mayatnya dilakukan pembongkaran sampai saat ini masih didalami oleh pihak kepolisian. 

Ketua RT tempat kediaman korban, Tholib bercerita tepat dua minggu sebelum korban yang bernama Khoiriyah (44) dilaporkan meninggal, korban sempat dijemput paksa oleh lima orang yang mengendarai mobil brio.  

Baca Juga: Diduga Jadi Korban Penculikan dan Penyekapan, Makam Perempuan Asal Kerso Jepara Dibongkar 

-Advertisement-

Hanya saja, karena tidak ada laporan kepada pihak RT, Tholib mengaku tidak mengetahui secara pasti identitas lima orang yang menjemput paksa korban. 

“Sekitar 2 minggu yang lalu, korban dijemput 5 orang pakai Brio, tapi waktu itu tidak ada laporan ke RT, yang tahu dari saya, yang punya laporan itu yang jual teh di depan rumah korban,” beber Tholib saat ditemui di TPU Datuk Sikangrang, Desa Kerso, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Kamis (13/11/2025). 

Saat korban dijemput paksa, Tholib melanjutkan korban sebenarnya sempat menolak dan terjadi keributan di kediaman korban. Akan tetapi, saat itu tidak terdapat warga yang bisa membantu mencegah peristiwa penjemputan paksa tersebut. 

“Sempat (digagalkan) kata yang jual teh, sempat geger, tapi karena yang jual es teh perempuan, ngga berani, kata yang jual es teh yang jemput besar-besar. Terus akhirnya bu khoiriyah dibawa kemana tidak tahu,” lanjutnya. 

Tholib melanjutkan, setelah dijemput paksa, sekitar tiga hari sebelum korban dilaporkan meninggal pada tanggal 5 November 2025, korban juga sempat datang ke Kantor Balai Desa Kerso untuk menemui kepala desa. 

Saat itu, korban menurut Tholib diantar oleh seorang pria bertato dengan niat untuk meminjam uang kepada Kepala Desa Kerso. 

“Tiga hari sebelum meninggal, korban sempat ke balaidesa ketemu pak inggi dianter orang bertato. Namanya siapa kita tidak tahu, katanya mau pinjam uang sama pak inggi,” ungkapnya. 

Tidak berselang lama setelahnya, korban menurut Tholib kemudian menghubungi orang yang menyewa kios di depan kediaman rumahnya. 

“Korban katanya minta tolong, saya sudah tidak kuat, saya tidak makan dua hari,” katanya. 

Sementara itu, Suharto(58), adik ipar korban bercerita korban selama ini tinggal seorang diri di kediaman rumahnya yang berada di RT 5 RW 1 Desa Kerso. 

Ketiga anak korban, menurutnya tidak lagi tinggal bersama korban. Anak pertamanya saat ini menetap di Kota Semarang, anak keduanya di Kecamatan Bangsri, dan anak terakhirnya tinggal dengan Budhe yang merupakan kakak dari alhamarhum suami korban. 

Kemudian terkait pekerjaan korban yang sebelum dilaporkan meninggal, bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di kediaman JR, Warga Desa Ngasem, Kecamatan Batealit, Suharto mengatakan pihak keluarga tidak mengetahui hal tersebut. 

Baca Juga: Ratusan Pengurus Kopdes Merah Putih di Jepara Mulai Dibekali Peningkatan Kompetensi 

Dari informasi yang Suharto terima dari pihak JR, korban bekerja disana karena untuk membayar hutang.

“Hutangnya ini terkait apa, keluarga tidak tahu. Karena korban tertutup dengan keluarga,” kata Suharto.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER