Makna Tradisi Golok-golok Mentok, Simbol Penolakan Terhadap Penindasan Perempuan

BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi Kirab Golok-golok Mentok, yang berlangsung di Desa Demaan, Kecamatan/Kabupaten Kudus, bukan hanya mengajarkan tentang rasa cinta terhadap Nabi Muhammad SAW. Namun, tradisi tersebut juga sebagai simbol penolakan terhadap penindasan perempuan yang harus diakhiri.

Secara harfiah golok-golok mentok bermakna penajaman kesadaran masyarakat, khusunya umat Islam untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di mana, segala sifat, perkataan, dan tindakan Rosulullah merupakan suri taulan yang baik untuk ditiru.

Baca Juga: Kirab Golok-golok Mentok di Demaan Kudus, Ribuan Keranjang Dibagikan ke Peserta

-Advertisement-

Ketua Panitia Kirab, Ubaidillah Andoko menyampaikan, adanya kegiatan itu bertujuan untuk mengajarkan rasa kecintaan terhadap nabi. Menurutnya, golok berarti senjata tajam, sedangkan mentok atau notok bermakna titik akhir.

“Sehingga makna golok-golok mentok adalah penghormatan terhadap kesetaraan perempuan. Konon, perempuan selalu mendapat penindasan di zaman jahiliyah sehingga harus diakhiri,” tuturnya.

Tak heran, dalam kirab tersebut keranjang kecil warna warni (golok-golok mentok) itu didominasi dibawa oleh para perempuan. Mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

“Keranjang-keranjang ini berisikan makanan dan jajan pasar yang dibagikan kepeada masyarakat. Ini kita lakukan sebagai bentuk silaturahim dan saling menjaga sesama tetangga,” ungkapnya.

Ia menuturkan, peserta kirab berkumpul di Masjid Al Mubarok, Desa Demaan sejak pukul 6.00 WIB. Setiap kelompok, membawa gunungan berisi golok-golok mentok, yang mana di akhir kegiatan menjadi rebutan warga.

Setidaknya ada 1.300 golok-golok mentok yang dibawa peserta kirab, dibagikan kepada warga setempat. Menurutnya, antusias dari warga adanya kegiatan itu sangat tinggi.

Baca Juga: Produksi Golok-golok Mentok di Kudus Banjir Pesanan Jelang Maulid, Apa Kegunaannya?

“Alhamdulillah peserta sangat senang mengikuti acara ini. Tradisi ini kita adakan setiap 12 Rabiul Awal (kalender Islam) dan saat ini sudah berjalan yang ke empat kalinya,” tuturnya.

Ia berharap, tradisi semacam itu dapat digelar setiap tahun untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Di samping itu, supaya tradisi tersebut bisa lestari sampai kapanpun.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER