31 C
Kudus
Selasa, Februari 17, 2026

Kisah Karmini, Penjual Jajanan yang Hidup di SMP 3 Bae Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Menjelang sore di depan SMP 3 Bae, Kudus, aroma jajanan yang dibakar dan digoreng mulai tercium, memikat siapa pun yang lewat. Di antara kerumunan anak sekolah dan mahasiswa, berdirilah Karmini (42), penjual aneka jajanan murah meriah yang sudah akrab dengan lingkungan sekolah tersebut.

Karmini bukan sekadar pedagang biasa. Ia adalah warga asli Demaan, Kudus, yang tinggal bersama suaminya di dalam area SMP 3 Bae. Suaminya bekerja sebagai tukang kebun di sekolah itu, dan pihak sekolah memberikan fasilitas tempat tinggal. Dari situlah Karmini memilih membuka usaha dagangan sederhana.

Baca Juga: Jatuh Bangun Berbisnis Sejak SMA, Kini Hana Punya Dua Kedai HN di Kudus

-Advertisement-

“Suami saya tukang kebun di sekolah. Karena dikasih tempat tinggal sama pihak sekolah, jadi saya ikut pindah ke SMP 3 Bae sama suami,” ujar Karmini.

Sebelum membuka lapak di depan sekolah, Karmini sebenarnya sudah lama berjualan di kantin SMP 3 Bae. Setiap pagi, ia berjualan di kantin, melayani siswa yang datang sebelum jam pelajaran dimulai.

Namun, saat libur sekolah tiba, kantin menjadi sepi. Tak ingin diam, Karmini pun berinisiatif memindahkan dagangannya ke depan sekolah sejak beberapa pekan lalu.

“Kalau pagi saya biasanya jualan di kantin sekolah. Tapi karena sekarang libur, kantin sepi. Akhirnya saya buka lapak sore sampai malam di depan sekolah,” jelasnya.

Lapak itu ia buka mulai pukul 14.00 hingga 22.00 WIB. Saat malam tiba, terutama selepas magrib, lapak Karmini biasanya mulai dipenuhi pembeli.

Menu jajanan Karmini beragam, mulai dari aneka bakaran seharga Rp1.000  hingga Rp2.000, kemudian juga ada sosis, cireng, citul, corndog, banana roll, cheese roll, dan minuman kemasan. Harga paling mahal hanya Rp5.000 per porsi , harga tersebut terbilang masih ramah di kantong pelajar.

Produk seperti sosis dan bakaran ia dapat dari seorang pemasok di Pedawang, Kudus. Sementara jajanan lain ia buat sendiri dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Dalam membuat jajan, ia mengaku dibantu oleh anak-anaknya. Ia juga membeberakan, bahwa dari lima orang anaknya, putra kedualah yang paling rajin menemaninya berjualan.

Baca Juga: Sri, Perempuan Asli Brebes yang Sukses Jualan Tahu Aci di Kudus

Dalam sehari, omzet Karmini bisa mencapai Rp350ribu perhari.  Tetapi, saat kondisi sepi, ia hanya memperoleh Rp200 ribu, bahkan bisa turun hingga Rp 100 saat hari Minggu.

“Kalau di lapak biasanya ramainya itu pas habis maghrib. Itu bisa dapat 300 ribu sampai 350 ribu kalau ramai. Sedangkan kalau sepi ya sekitar 200 ribu. Kadang kalau hari Minggu libur sekolah itu cuma dapat 100 ribu aja,” tambahnya.

Penulis: Faidzoh Iffatul Khoir, Mahasiswa UIN Sunan Kudus

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER