BETANEWS.ID, KUDUS – Di bawah terik matahari pagi, seorang wanita paruh baya tampak sibuk di balik gerobak sederhana bertuliskan “Tahu Aci Pyar-Pyar”. Tangannya cekatan memasukkan adonan putih ke dalam potongan tahu yang sudah dilubangi. Wajahnya serius, tapi tenang, seakan hafal betul setiap gerakan yang dilakukan.
Perempuan itu adalah Sri (50), ibu enam anak asal Brebes, yang sudah lebih dari 18 tahun mengais rezeki lewat tahu aci. Sri mengaku, bahwa ia adalah orang pertama yang pertama kali membuka lapak jajanan di depan Kampus UIN Sunan Kudus.
Baca Juga: Mengenal Yuli, Pembatik Kudus yang Berdayakan Lingkungan Hingga Anak Berkebutuhan Khusus
“Awalnya cuma coba-coba. Saya yang pertama jualan di sini, sebelum ada pedagang lain,” kata Sri saat ditemui beberapa waktu lalu.
Perjalanan hidup Sri tak selalu mulus. Sebelum menetap di Kudus, ia pernah mencoba peruntungan di Jakarta dengan berjualan nasi uduk dan gorengan. Tapi usaha itu gulung tikar dan memaksanya pulang kampung.
Tak menyerah pada keadaan, Sri memilih pindah ke Kudus dan kembali merintis usaha dari nol. Bedanya, kali ini ia menjajakan tahu aci, tahu walik, batagor pangsit, hingga siomay.
Setiap hari, Sri mulai jualan pukul 08.00 hingga 17.30 WIB. Dia tidak sendiri, ia dibantu putra keempatnya, Maulana Zakariya (17).
“Semua hasil racikan saya sendiri. Sehari bisa goreng tahu aci tiga hingga empat kali, kalau ditotal sekitar 10 kilogram,” ujarnya.
Selain itu, Sri juga mengolah sekitar 5 kilogram tahu walik dan batagor pangsit setiap harinya. Semua dibuat segar, tanpa sisa dari hari sebelumnya. Dari semua jajanan yang ia jual, tahu aci yang jadi primadona.
Sri juga menambahkan, bahwa pelanggannya bukan hanya dari kalangan mahasiswa UIN Sunan Kudus, tetapi juga dari UMK, pekerja pabrik Djarum, hingga anak sekolah. Meski hanya berjualan secara offline, omzetnya bisa mencapai Rp1 juta per hari.
Baca Juga: Sejak Kecil Suka Coklat, Wisnu Kini Pilih Tekuni Bisnis Es Coklat Kuwenthel
Dari situ, keuntungan bersih yang ia bawa pulang berkisar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu. Selama bertahun-tahun jualan dari gerobak kecilnya itu, Sri mengaku berhasil membeli rumah untuk keluarganya.
“Alhamdulillah, hasil jualan bisa buat beli rumah. Dulu saya cuma ngontrak, ngekos ke sana ke mari,” tambahnya.
Penulis: Seli Rukhmana, Mahasiswa PPL UIN Sunan Kudus
Editor: Haikal Rosyada

