BETANEWS.ID, KUDUS – Muria Batik Kudus yang beralamat Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog berhasil mendapat penghargaan Pertapreneur Aggregator dari Pertamina 2024. Hal tersebut diraih lantaran Muria Batik melibatkan dan berdayakan tak hanya masyarakat sekitar, namun juga kaum rentan seperti difabel, dalam setiap produksinya.
Nama Muria Batik Kudus sudah dikenal di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan produk lokal Kudus tersebut juga dikenal sampai ke luar negeri, Malaysia dan Brunei Darussalam.
Baca Juga: Mengenal Bilqis, Duta Wisata Kudus yang Ingin Jadi Presenter Seperti Najwa Shihab
Owner Muria Batik Kudus, Yuli Astuti mengatakan, usaha batik ia rintis sejak 2005 silam, atas keprihatinannya terhadap kepunahan batik Kudus yang pernah berjaya pada 1970-an. Sebagai generasi muda yang cinta akan budaya, Yuli melakukan riset mendalam terkait sejarah dan motif batik Kudus.
Hal tersebut ia lakukan hingga ke berbagai daerah, sebelum akhirnya memutuskan untuk memproduksi batik secara mandiri.
“Muria batik, saya dirikan berangkat dari kepunahan batik Kudus yang pernah berjaya 1970an. Di mana waktu itu, tidak ada pembatik sama sekali, kemudian saya mencoba mengangkat kembali dengan meneliti motif hingga sejarah sampai ke beberapa wilayah,” katanya saat ditemui di tempat produksinya.
Ia sadar, bahwa dalam produksi tak bisa dilakukan secara mandiri. Untuk itu pihaknya mengajak masyarakat sekitar, terutama anak muda untuk berlatih membatik.
“Alhamdulillah sekarang bisa berproduksi, bisa memperkenalkan batik Kudus secara luas baik skala nasional maupun internasional,” terangnya.
Berjalannya waktu, kata dia, perkembangan Muria Batik yang semakin hari semakin bagus dari segi peminat dan permintaan, ia kemudian mencoba untuk merangkul anak-anak berkebutuhan khusus. Sebab, kesempatan mereka sangat terbatas di dunia kerja.
Oleh karena itu, Yuli bekerjasama dengan sekolah luar biasa (SLB) Cendono untuk membuka kesempatan magang bagi siswa difabel. Bahkan hasil dari itu, lulusannya ditarik untuk dipekerjakan di sana.
“Kalau untuk jumlah pekerja disabilitas di sini totalnya ada tujuh orang. Jadi saya tertarik mempekerjakan teman-teman difabel karena memang ingin membuka kesempatan bagi mereka juga,” jelasnya.
Ia mengaku, pendampingan difabel perlu adanya pendekatan khusus. Terlebih, mereka sangat sensitif dan tidak langsung bisa berbaur dengan orang seperti pada umumnya.
“Di awal memang butuh pembinaan ektra karena mereka sensitif dan belum bisa langsung membaur. Tapi dengan pendekatan psikologis dan kerjasama dengan guru SLB, bisa teratasi,” ungkapnya.
Ia bahkan menyakini, mereka mempunyai potensi yang dapat digali, baik nyolek, mencanting, menggambar, hingga jablak dalam produksi membatik. Menurutnya, anak berkebutuhan khusus bisa fokus terhadap apa yang sedang dikerjakan.
“Waktu adaptasi mereka bisa membaur dan bekerja antara dua Minggu sampai satu bulan. Bahkan pertama kali ada juga yang tidak bisa membaca dan menulis, jadi awalnya kami kesulitan memberi arahan. Sampai saya belajar berkomunikasi dengan bahasa isyarat untuk bisa memahami mereka,” terangnya.
Baca Juga: Kisah Muchin, 25 Tahun Jadi Penjual Bendera Musiman Setiap Menjelang Hari Kemerdekaan
Usaha dan dedikasi Yuli tidak sia-sia. Salah satu anak difabel binaanya berhasil meraih juara satu lomba batik tingkat Karesidenan Pati dan kini mewakili Provinsi Jawa Tengah. Ia berharap, dengan Raihan penghargaan Aggregator Pertapreneur dari Pertamina itu, ia bisa semakin memperluas jangkauan dan dampak sosialnya, terutama pada penyandang disabilitas dan lingkungan sekitar.
Saat ini, setidaknya sudah lebih 100 motif batik yang ia buat, mengangkat kearifan lokal Kudus. Sekitar 20 motif sudah didaftarkan hak cipta.
Editor: Haikal Rosyada

