31 C
Kudus
Selasa, Februari 17, 2026

Bedah Buku Menghadang Kubilai Khan, Jaker Kudus Ajak Generasi Muda Bangkitkan Semangat Persatuan

BETANEWS.ID, KUDUS – Novel Menghadang Kubilai Khan, karya AJ Susmana dibedah di Rumah Dinas Wakil Bupati Kudus, tepatnya di Jalan Diponegoro, Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Sabtu (23/8/2025). Pada kesempatan itu, hadir sebagai pembedah Imam Khanafi, penulis buku asal Klaten, dan anggota DPRD Kabupaten Kudus, Valerie Pramudya Yudistira dan Kholid Mawardi, serta bunda literasi Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris.

Tak hanya itu, peserta dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, siswa juga ikut hadir dalam acara bertajuk “Diskusi dan Bedah Buku Menghadang Kubilai Khan”. Acara yang secara langsung diinisiasi oleh komunitas Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) Kudus itu sebagai momentum untuk menggalang persatuan di tengah kondisi Indonesia yang sedang banyak persoalan.

Baca Juga: Tunggakan Retribusi Kios dan Los Pasar Tradisional Kudus Tembus Rp5 M

-Advertisement-

Ketua panitia diskusi, sekaligus bendahara Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) Kudus, Adrian HY mengatakan, adanya kegiatan itu bertujuan untuk memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengetahui sejarah dan kebudayaan Indonesia. Terlebih peserta diharapkan mengerti akan kekuatan Nusantara di masa lalu, menjadi negara besar dan makmur.

“Harapannya kita bisa kembali mencintai literasi dan bacaan akan sejarah dan kita bisa menangkap pesan nasionalisme, patriotisme. Selain itu, ada ruang-ruang literasi tentang sejarah, budaya yang ada di Kudus,” bebernya.

Penulis Novel Menghadang Kubilai Khan, AJ Susmana menyampaikan, melalui karya tulisnya, dia ingin menggambarkan situasi imperium atau historis kekaisaran pada abad 13. Di mana pada masa itu, ada sebuah kerajaan yang menguasai setengah dunia, yakni Mongol bisa ditaklukan oleh kerjaan dari Jawa yang dipimpin oleh Kertanegara.

“Latar belakang penulisan buku ini, karena situasi adanya keserahan kondisi Indonesia saat ini dalam persoalan imperalisme. Sehingga saya tergugah dan melakukan riset dan mencari tokoh untuk menginspirasi masyarakat untuk tidak menyerah dalam hal tunduk pada kedudukan asing,” ungkapnya.

Karya novel yang terbit pada Mei 2021 lalu itu, kata dia, ada sebanyak 333 halaman yang sudah terjual ribuan hingga saat ini. Menurutnya, buku yang dijual dengan harga sekitar Rp300 ribu itu sebagai upaya cerminan membangun persatuan nasional.

Setidaknya buku itu membutuhkan proses panjang mulai dari riset dan penulisan mencapai lima tahun. Ia menuturkan, kendala dalam pembuatan buku tersebut memakan waktu lama karena dilakukan secara pribadi.

“Karena kami berpikir, berkesimpulan, kalau kondisi Indonesia saat ini masih dalam penjajahan asing. Untuk itu, melalui buku ini menggalang persatuan nasional, di mana dulu kita pernah melawan dan berhasil mengusir pendudukan asing pada abad 13, yaitu Bangsa Mongol,” tuturnya.

Tuah dari keberhasilan mengusir pendudukan Bangsa Mongol saat itu, bisa membangun sebuah negara atau kerajaan bernama Majapahit yang dipimpin oleh Kertanegara. Ia menyebut, Kertanegara merupakan sosok religius, berkarakter, dan mempunyai pengetahuan luas. Majapahit dipimpin Wijaya, menantu Kertanegara yang melanjutkan visi politik luar negeri Kertanegara

“Bahkan dia memahami tentang geopolitik dunia waktu itu. Dia paham ancaman Mongol yang sudah menaklukan Dinasti Song, China, yang dapat mengancam wilayah Nusantara,” terangnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, Kertanegara diceritakan menggalang persatuan dengan berbagai kerjaan di Nusantara demi mengamankan wilayah. Dengan mengirim pasukan ke beberapa kerajaan, termasuk ke Campa, Kalimantan, Palembang, Sumatra untuk menghadang pasukan dari Bangsa Mongol tersebut.

“Jadi kaitannya kondisi Indonesia saat ini dengan novel ini adalah negara kita mengalami kesamaan pada waktu itu. Kita harus yakin belajar dari leluhur yang dapat mengusir dan melepas dari imperialisme atau penjajahan asing,” sebutnya.

Pembedah buku, Imam Khanafi menyampaikan, bahwa buku tersebut sangat bagus untuk dibaca. Mengingat novel tersebut mengangkat tentang persatuan dan geopolitik Nusantara. Ia bahkan penasaran, Kartanegara disebut sampai 918 kali dalam novel berjudul “Menghadang Kubilai Khan” tersebut.

Menurutnya, novel itu mengangkat periode penting sejarah Nusantara pada abad ke-13, ketika kerajaan-kerajaan Jawa (Singhasari dan Kediri) menghadapi ancaman ekspansi besar dari Dinasti Mongol di bawah pimpinan Kubilai Khan.

“Jadi cerita dibuka dengan runtuhnya Kediri dan kebangkitan Tumapel (Singhasari) melalui sosok Ken Arok. Dari sana, kisah berlanjut ke masa pemerintahan Kertanagara, seorang raja yang visioner dan berusaha mempersatukan Jawa dan Nusantara sebagai benteng menghadapi serangan bangsa asing,” jelasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Kudus, Valerie Pramudya Yudistira mengaku mendukung adanya kegiatan diskusi tersebut. Bermitra dengan Dinas Arpusda Kudus, ia mempunyai target untuk meningkatkan indeks literasi di Kota Kretek.

Baca Juga: Meski Perekonomian Menurun, Ketua PHRI Sebut Okupansi Hotel di Kudus Terbantu Even Nasional

“Saya dukung dan suport, terlebih anak muda itu antusias sampai acara selesai menjadi harapan baru kita. Di mana kita memang harus melek literasi dan membudayakan buku,” paparnya.

Dia berharap, agar kegiatan itu tidak menjadi seremonial dan mementum semata, namun juga bisa berkelanjutan.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER