BETANEWS.ID, KUDUS – Pada tahun 2025 ratusan warga Kabupaten Kudus mengalami depresi. Kecanduan judi online (judol) hingga terjerat pinjaman online (pinjol) jadi faktor warga Kota Kretek banyak yang mengalami gangguan mental.
Programer Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Indria Toni Setyadi mengatakan, Dinas Kesehatan sudah melakukan screening kesehatan jiwa terhadap 71.423 orang berusia 18 tahun ke atas.
Baca Juga: 72 SD di Kudus Kurang Murid, Skema Penggabungan Sekolah Secepatnya Dijalankan
“Dari hasil screening tersebut ditemukan sebanyak 620 warga Kota Kretek yang mengalami depresi atau 0,87 persen dari total yang discreening,” ujar Toni kepada Betanews.id di ruang kerjanya, Senin (4/8/2025).
Toni menuturkan, untuk melakukan screening kesehatan mental pihak DKK menggunakan kuesioner Patient Health Questionnaire-2 (PHQ-2). Dari kuesioner tersebut, akan diketahui warga yang mentalnya sehat, alami kecemasan dan depresi.
“Ketika orang sudah putus asa, sering murung dan tertekan dalam hidupnya, maka yang bersangkutan sudah mengalami depresi. Dan pada tahun 2025 ini, warga Kudus yang mengalami depresi ada 620 orang,” bebernya.
Menurutnya, ada banyak faktor penyebab seseorang bisa mengalami depresi. Tetapi untuk saat ini yang paling banyak itu dikarenakan ketagihan judi online (judol).
Menurutnya, ketagihan judol karena hasrat ingin kaya secara instan justru membuat ekonomi seseorang morat-marit. Tak jarang mereka kemudian terjerumus ke pinjaman online (pinjol).
“Akhirnya mereka pun depresi, hidupnya merasa tertekan dan putus asa. Judol dan pinjol saat ini lagi ngetren, tetapi justru jadi penyebab banyak warga Kudus yang depresi,” sebutnya.
Selain judol dan pinjol, lanjut Toni, ada beberapa faktor lain, yakni persoalan keluarga. Misal perselisihan dalam rumah tangga hingga membuat keluarga tidak harmonis.
“Ketika keluarga tidak harmonis dan sering terjadi perselisihan juga bisa mengakibatkan streshi dan depresi,” ungkapnya.
Dia mengatakan, warga Kudus yang terdeteksi mengalami depresi akan diassesment untuk dilakukan pengobatan di puskesmas. Nanti dari puskesmas diasessment lagi dan dicari penyebabnya, kemudian diberi pengetahuan dan peningkatan koping.
“Tetapi ketika progresnya masih belum bagus, maka pengobatan akan dirujuk ke dokter spesialis kesehatan jiwa rumah sakit-rumah sakit yang ada di Kabupaten Kudus,” terangnya.
Baca Juga:58 Sekolah di Kudus Direhabilitasi Tahun Ini, 25 Paket Mulai Berjalan
Dia menututkan, bahwa peluang sembuh orang depresi cukup besar. Oleh karena itu, mumpung saat ini ada program Cek Kesehatan Gratis (CKG) segeralah lakukan pengecekan kesehatan ke puskesmas terdekat.
“Agar ketika mengalami depresi bisa terdeteksi sejak dini dan dilakukan pengobatan secara maksimal,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

