31 C
Kudus
Rabu, Februari 18, 2026

Aryani, Anak Down Syndrome Kudus Akhirnya Bisa Sekolah di SLBN Purwosari 

BETANEWS.ID, KUDUS – Aryani Marwa Artika, anak down syndrome dan autis yang sebelumnya ditinjau lintas sektoral, akhirnya mendapat lampu hijau untuk bersekolah. Kini, Aryani yang berusia 8 tahun dapat mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Purwosari, Kudus. 

Warga Desa Tanjungkarang RT 2 RW 1, Kecamatan Jati tersebut sudah mulai mengikuti kegiatan belajar sejak Selasa (22/7/2025) lalu. 

Salah satu guru SLBN Purwosari, Kukuh Imanda Sabrang menyampaikan, setelah tinjauan langsung ke kediamannya, sehari setelahnya langsung bisa diterima setelah hasil tes psikologinya keluar. Tes psikologi tersebut akan digunakan guru untuk memberikan pelayanan sesuai yang dibutuhkan anak.

-Advertisement-

Baca juga: Wadul ke Bupati, Orang Tua Anak Down Sindrome di Kudus Meminta Sekolah Gratis di SLB

“Hasil tesnya menunjukkan Aryani terindikasi down syndrome. Secara motorik kasar juga belum begitu bagus, seperti menggenggam pensil belum bisa. Maka butuh terapi okupasi untuk melatih motorik dan perilaku,” jelasnya saat ditemui di sekolah, Jumat (25/7/2025).

Menurutnya, Aryani bergabung dengan rombongan belajar (rombel) kelas satu, dengan kondisi serupa. Mereka masih cenderung hiperaktif dan belum bisa duduk tenang. Sehingga dalam pembelajaran, ruang kelas ditutup rapat agar anak tidak lari kemana-mana.

“Saat pembelajaran kelas ditutup dan dikunci demi keamanan. Pembelajaran dilakukan dengan metode menyenangkan seperti menyanyi, melatih motorik dan menonton video,” ungkapnya.

Dia menuturkan, Aryani terlihat tenang dan bisa fokus ketika melihat video di ponsel atau pada objek yang disukai. Pihak sekolah pun memberikan keleluasaan atau opsi bagi orang tua siswa dalam hal pendampingan anaknya saat di sekolah, terutama kepada murid kelas satu.

Hal itu dilakukan, agar anak yang belum bisa melakukan kemandirian, seperti saat makan, buang air, karena mereka belum bisa melakukannya sendiri bisa didampingi. Ia mengaku, sosok Aryani masih terbawa kebiasaannya dengan perilaku hiperaktif.

“Terkadang jahilin temannya saat di sekolah. Misalnya cuel (usil) kepada temannya yang lain, itu nanti kita coba perbaiki agar lebih baik lagi,” sebutnya.

Ia menjelaskan, di kelas satu pembelajaran yang diberikan adalah layanan pendidikan yang lebih menekankan sensorik seperti pengenalan warna, angka, dan gestur tangan. Sehingga belum masuk pada tahap melatih anak pada kemampuan membaca, tulis, dan berhitung (calistung).

Baca juga: Anak Down Syndrome di Kudus Diupayakan Bisa Sekolah Gratis, Kini Tunggu Hasil Asesmen Psikolog 

Setidaknya, lanjut dia, siswa kelas satu dalam mengikuti KBM selama lima hari dalam sepekan, mulai dari pukul 7.00-10.00 WIB.

“Jadi kita pelan-pelan latih anak-anak, termasuk Aryani sesuai kebutuhannya. Karena setiap anak berbeda, ada yang mampu didik, mampu latih, dan mampu rawat,” tuturnya.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER