Zonasi Lima Sila, Terobosan Kultural Badiklat Hukum Jawa Tengah

BETANEWS.ID, SEMARANG – Komitmen Balai Pendidikan dan Pelatihan Hukum (Badiklat Hukum) Jawa Tengah dalam merawat nilai-nilai kebangsaan tak lagi sebatas simbol atau jargon. Melalui pendekatan ruang, komunitas, dan budaya kerja, lembaga ini telah memproklamirkan diri sebagai Kampus Pancasila, yang menanamkan ideologi dalam tindakan nyata.

Langkah ini bertepatan dengan momentum 80 tahun lahirnya Pancasila, yang bagi Badiklat bukan sekadar peringatan, melainkan pijakan untuk mengubah cara berpikir dan bekerja dalam birokrasi. Kepala Badiklat, Rinto Gunawan, menegaskan bahwa upaya ini mendorong tumbuhnya suasana belajar yang menyenangkan dan penuh makna.

“Kami ingin menciptakan suasana senang belajar, di mana setiap orang merasa menjadi bagian dari ekosistem nilai. Bukan hanya menghafal Pancasila, tetapi mengalami dan menjalani Pancasila,” ungkapnya, Senin (2/6/2025).

-Advertisement-

Baca juga: Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Momentum Penghormatan Kepada Pahlawan

Salah satu pendekatan inovatif yang diterapkan adalah pemetaan kawasan kantor berdasarkan sila-sila Pancasila. Kawasan tersebut disusun tidak hanya secara simbolik tetapi juga fungsional.

Lima zona nilai tersebut di antaranya, Zona Ketuhanan di Gedung A dan lapangan apel, Zona Kemanusiaan di asrama pelatihan dan outdoor area, Zona Persatuan di taman beringin, Zona Kerakyatan di area rumah dinas dan bakal masjid, hingga Zona Keadilan di sport center. Kelima zona ini dirancang menjadi ruang hidup yang mengintegrasikan makna nilai dengan praktik keseharian.

Transformasi tidak berhenti pada desain ruang. Di baliknya, tumbuh komunitas-komunitas pembelajar yang memfasilitasi diskusi, refleksi, dan inovasi. Dua pendekatan utama yang dikembangkan yakni Community of Interest (CoI), ruang reflektif untuk mengeksplorasi tema spesifik dari masing-masing sila. Dan Community of Excellence (CoE), forum penciptaan inovasi kebijakan dan metode pembelajaran berbasis nilai.

Contohnya, di Zona Kemanusiaan muncul komunitas GEDSI Lovers yang fokus pada kesetaraan dan pelayanan publik inklusif. Sementara di Zona Persatuan terbentuk SOSKUL Community, yang terdiri dari peserta pelatihan lintas suku dan agama, membahas isu-isu toleransi dan kebangsaan.

Inisiatif ini juga memperkuat posisi Badiklat dalam mendukung terwujudnya Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). Nilai-nilai Pancasila dijadikan dasar dalam menumbuhkan integritas dan akuntabilitas pegawai.

Baca juga: Pembangunan Jateng 2026 Diarahkan untuk Penopang Swasembada Pangan

“Kami percaya, reformasi birokrasi akan lebih kuat bila ditopang oleh kesadaran nilai. Kinerja bukan hanya soal target, tetapi juga soal tanggung jawab sebagai warga negara,” tegas Muh Khamdan, yang menjadi narasumber dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan 75 Kementerian Hukum, Selasa (3/6/2025).

Konsep Kampus Pancasila yang diusung Badiklat menjungkirbalikkan paradigma birokrasi teknokratis menjadi birokrasi yang bernapas dengan nilai. Proses belajar tidak terbatas di kelas, tapi bisa terjadi di taman, lapangan, rumah dinas, bahkan pusat kebugaran menjadikan setiap sudut kantor sebagai ruang pembentukan karakter.

Transformasi ini menunjukkan bahwa Pancasila tidak harus hadir dalam bentuk doktrin yang kaku. Organisasi pembelajar berbasis Pancasila ini menjadi contoh pembaruan birokrasi yang tidak hanya efisien, tetapi juga berkarakter dan bermakna. Dengan pendekatan ini, Pancasila benar-benar hadir dalam tindakan, bukan sekadar dokumen atau jargon. Sebuah kontribusi penting dalam merawat ideologi negara agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER