BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa hari terakhir, sejumlah daerah diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Hal itu mengakibatkan Bendung Wilalung saat ini berstatus awas.
Terlebih, Kamis (22/5/2025) pukul 10.00 WIB, debit air di Bendung Klambu mencapai 806 m³/detik. Hal tersebut membuat pintu di Bendung Wilalung harus dilakukan standart operasional prosedur (SOP) atau pembukaan pintu yang mengarah ke Sungai Juwana.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana yang terjadi. Pasalnya, di tahun ini hingga bulan Juli, diprediksi mengalami kemarau basah, yang justru berisiko memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Kasi Kedaruratan BPBD Kudus, Ahmad Munaji, mengatakan fenomena kemarau basah dipengaruhi oleh peningkatan suhu permukaan laut, yang menyebabkan hujan tetap turun meskipun dalam periode atau musim kemarau.
“Perlu diingat bahwa di 2025 sampai Juli itu kondisi kemarau basah. Kemarau basah itu dipengaruhi oleh suhu air laut yang meningkat, sehingga bencana hidrometeorologi ini masih mengintai atau potensi bencana terjadi di sekeliling kita,” bebernya ketika meninjau Bendung Wilalung, Kamis (22/5/2025).
Munaji menegaskan, kondisi seperti ini membuat kiriman air dari laut dan intensitas hujan masih akan sering terjadi, terutama di wilayah pegunungan dan bantaran sungai. Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat untuk tidak lengah di kondisi kemarau basah seperti ini.
“Air hujan dengan kondisi kiriman air dari laut akan sering terjadi. Kalau dari BMKG itu mengimbau untuk tetap waspada. Di wilayah pegunungan, sungai selalu berhati-hati, laporkan ke pihak terkait,” tambahnya.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BPBD Kudus terus memantau kondisi sejumlah titik rawan, termasuk tanggul Sungai Wulan. Meski ada informasi adanya sleding tanggul di daerah Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, pihaknya menilai bahwa itu masih dalam kondisi aman.
“Mudah-mudahan kita semua yang dilewati Sungai Wulan, baik Kudus, Demak, dan sekitar wilayah lain aman semua. Tapi kita tetap pantau dan koordinasikan,” katanya.
Ia juga meminta seluruh elemen masyarakat untuk ikut terlibat dalam pengurangan risiko bencana. Menurutnya, bencana merupakan urusan bersama, sehingga penanganan harus dilakukan secara bergotongroyong dan bahu membahu.
“Bencana itu urusan bersama, ya kita tangani bersama-sama,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

