BETANEWS.ID, JEPARA – Lapangan SDN 10 Karanggondang yang berada di Dukuh Balong Arto, Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara memiliki pemandangan berbeda. Terdapat sekitar 20 pohon pisang yang ditanam di halaman sekolah.
Pohon pisang tersebut diketahui ditanam oleh keluarga ahli waris pemilik tanah. Selain itu, di bagian depan sekolah, ahli waris juga memasang dua buah spanduk di sisi kanan dan kiri yang berisi pesan bahwa sekolah tersebut harus segera dikosongkan.
Spanduk di sebelah kiri berisi pesan bahwa tanah ini milik ahli waris Surip (Alm) seusai dengan Persil, No. 18, DII. C, No. 1908. Dan menghimbau kepada pemerintah Desa Karanggondang agar seger membongkar bangunan gedung SDN 10. Spanduk tersebut dipasang lebih dulu sekitar bulan April 2025 dibanding spanduk di sebelah kanan.
Baca juga: Sengketa Lahan, SDN 10 Karanggondang Jepara Terancam Ditutup
Sedangkan spanduk sebalah kanan berisikan pesan bahwa mulai 1 September 2025 gedung sekolah SDN 10 akan ditutup oleh pemilik tanah serta menghimbau kepada semua murid agar segera berpindah ke sekolah lain.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara mengatakan sesuai kesepakatan dengan kuasa hukum dari ahli waris, pohon pisang tersebut akan dicabut pada sore ini. Sehingga besok pagi, Rabu (14/5/2025) lapangan tersebut sudah bisa digunakan oleh para siswa untuk beraktivitas.
“Lapangan sekolah yang saat ini ada di pohon pisang tadi sesuai kesepakatan akan dicabut, sehingga besok pagi bisa digunakan oleh anak-anak kita,” katanya saat meninju SDN 10 Karanggondang, Selasa (13/5/2025).
Baca juga: Warga Desa Parang Jepara Desak Pemkab Bangunkan Dermaga Kapal
Kepala Sekolah SDN 10 Karanggondang, Suyadi mengatakan terkait penanaman pohon pisang tersebut ia tidak mengetahui apa alasan dari pihak ahli waris. Pohon pisang tersebut menurutnya juga cukup mengganggu para siswa pada saat jam kegiatan olahraga.
Hingga kemudian ia melaporkan hal tersebut kepada pihak terkait agar pohon pisang tersebut bisa dicabut atau dipindah ke tempat lain.
“Pada saat anak olahraga, main bola, itu pohon pisangnya ada yang ditendang, kena bola, dari ahli waris ada yang marah, ada yang bentak. Jadi saya merasa keberatan dan terbebani dengan adanya pohon pisang di lapangan karena mengganggu kegiatan belajar,” katanya.
Editor: Haikal Rosyada

