BETANEWS.ID, KUDUS – Desa Japan, Kecamatan Dawe saat ini tengah berupaya untuk mengangkat kopi Muria, utamanya yang berasal dari daerah tersebut bisa dikenal lebih luas. Memiliki cita rasa khas, Desa Japan yang konon merupakan daerah penghasil kopi pertama di lereng Muria itu ingin menggelar Festival Kopi Nusantara di 2029.
Sebagai langkah awal, kegiatan Japan Festival 2025 merupakan salah satu rootmap untuk mencapai impian tersebut. Inti dari keinginan untuk menggelar Festival kopi nantinya, ingin mengangkat nama ‘Negeri Kopi kembali Lestari’, agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.
Ketua Desa Wisata Japan, Mutohar menyampaikan, impian tersebut dimulai dengan rootmap yang sudah dicanangkan pada 2025 ini. Menurutnya, rencana itu akan membranding empat model. Di antaranya meliputi, wisata alam, wisata edukasi, wisata religi, dan festival kopi.
Baca juga: Panen Kopi Desa Japan Ditarget Naik Hingga 400 Ton Tahun Ini
“Karena di desa kami terdapat keindahan pemandangan pegunungan Muria. Lalu kita merencanakan ada wisata edukasi terkait kopi. Kemudian untuk religi, juga ada makam Syekh Hasan Sdazali di Rejenu,” bebernya penuh semangat.
Ia berharap, impian tersebut bisa terlaksana demi memperkenalkan kopi Muria di panggung Nasional bahkan Internasional. Sebab menurutnya, kopi Muria terutama yang berasal dari Desa Japan mempunyai rasa yang khas dan berbeda dengan daerah lainnya.
“Untuk rasa kopi Muria, terutama dari Japan lebih menonjol dari sisi aroma, legit dan rasa asamnya lebih kuat. Berbeda dengan kopi robusta daerah lain. Ini yang akan kami angkat supaya nama kopi Muria lebih dikenal sampai penjuru dunia,” jelasnya.
Dengan memiliki lahan mayoritas yang ditanami kopi, Desa Japan sangat berambisi dengan membranding diri sebagai Negeri Kopi. Sebanyak 75 hektar lahan di sana, rata-rata dapat menghasilkan 200 ton kopi setiap tahunnya.
Baca juga: Senangnya Vivit Ikut Eduwisata Tour Kopi Japan: ‘Jadi Tahu Cara Prosesnya’
Meski sebelumnya sudah ada tawaran mensuplai kopi sampai luar negeri, namun pihaknya masih mempertimbangkan dalam segi stok. Secara keseluruhan, serapan kopi di Kabupaten Kudus, setidaknya satu petani hanya mampu melayani 70 kilogran permintaan kopi setiap hari dalam bentuk kopi bubuk.
“Jumlah ini bisa dikatakan besar, dengan daya serapan permintaan kopi dari sini yang cukup besar. Namun saat ini kami hanya bisa memenuhi kebutuhan kopi di wilayah Provinsi Jawa Tengah, belum bisa sampai Nasional,” ujarnya.
Editor: Haikal Rosyada

