BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan peserta dari PKBM Sejati Kudus mengikuti kegiatan eduwisata dalam rangkaian Japan Festival 2025. Kegiatan ini menjadi momen langka bagi para peserta, karena bisa secara langsung mengetahui proses membuat kopi dengan benar. Baik mulai dari pascapanen hingga penyeduhan dengan benar.
Salah satu peserta yang mengaku senang dengan adanya kegiatan itu adalah Vivitiani. Menurutnya, hal tersebut merupakan pengalaman pertama kalinya mengetahui tentang kopi. Dia yang biasanya hanya meminum, kali ini bisa merasakan cara pemrosesan sebuah kopi dari awal pascapanen.
“Senang banget, jadi lebih tahu ternyata buat kopi itu kayak gini. Biasanya kan cuma minum, tidak tahu prosesnya. Ini baru pertama kali ikut, dan dapat pengalaman baru, bisa membedakan biji kopi yang baik, tahapan pascapanen sampai ke proses rosting,” bebernya saat ditemui di sela kegiatan, Senin (12/5/2025).
Baca juga: Berminat Ikut Lelang Pengelolaan Parkir di Kudus? Begini Syaratnya
Eduwisata ini menyuguhkan pengalaman langsung bagi peserta untuk mengunjungi kebun kopi, mempelajari jenis-jenis kopi, hingga proses pascapanen yang dijelaskan oleh pemateri, Dika Kristiana dan Yogi. Peserta juga dikenalkan fungsi biji dan kulit kopi yang ternyata memiliki nilai guna masing-masing.
Usai dari kebun, peserta diajak ke tempat pengolahan atau rosting yang dilakukan secara tradisional. Di sini, peserta belajar tentang level sangrai kopi (ros level) seperti light, medium, dan dark, serta mencoba sendiri menumbuk kopi dengan cara tradisional.
“Kalau biasanya pakai mesin grinder, di sini peserta diajak menumbuk manual. Ini bagian dari pelestarian budaya. Bahkan sangrai yang digunakan masih memakai kreweng, khas era kolonial Belanda, untuk menonjolkan rasa pahit kopi,” jelas Dika.
Ia menambahkan, meskipun cara tradisional digunakan, rasa tetap bisa dikontrol dengan perasaan (feeling) agar mencapai level sangrai yang diinginkan. Hal ini juga berkaitan dengan keamanan kopi untuk dikonsumsi, termasuk mempertimbangkan efeknya terhadap lambung.
“Untuk peserta yang mengikuti kegiatan ini kurang lebih ada 30 orang. Mereka juga sangat antusias terkait penjelasan tentang kopi yang kami sampaikan,” tuturnya.
Baca juga: Cerita Solikin, Tukang Pijat Naik Haji yang Menabung selama 30 Tahun
Tujuan utama kegiatan ini, kata Dika, untuk memberi edukasi tentang cara membuat kopi yang benar, dari proses pascapanen hingga penyajian, sekaligus memperkenalkan potensi desa yang lebih mengunggulkan kopi dengan branding ‘Negeri Kopi’ di lereng Muria kepada masyarakat luas.
“Siapa tahu peserta terinspirasi untuk membuka kedai kopi dan berwirausaha. Dengan melihat langsung prosesnya, mereka akan lebih menghargai kopi sebagai produk lokal unggulan,” ungkapnya.
Menurut Dika, mayoritas atau sebanyak 70 persen masyarakat Desa Japan, Kecamatan Dawe masih menggunakan cara tradisional untuk mengolah kopi yang dikenal legit tersebut. Sementara 30 persennya sudah menggunakan mesin modern.
Editor: Haikal Rosyada

