31 C
Kudus
Jumat, Februari 20, 2026

Dispertan Kudus Tak Anjurkan Penggunaan Setrum untuk Antisipasi Hama Tikus

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa petani di Dukuh Karangturi memakai alat setrum guna mengantisipasi hama tikus yang saat ini menyerah di area persawahan Desa Setrokalangan. Alat tersebut dianggap sangat mujarab mengantisipasi tikus yang membabat habis tanaman padi sejumlah petani di sana.

Meski begitu, Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus tidak menganjurkan penggunaan alat setrum di sawah. Penggunaan alat tersebut sangat membahayakan bagi warga.

Baca Kuga: Tanaman Padi di Setrokalangan Kudus Ludes Dibabat Tikus

-Advertisement-

“Sebetulnya dari kami tidak menyarankan ke situ, kan itu berisiko mas. Sebetulnya kalau mau efektif harusnya di awal itu sudah dilakukan pemasangan umpan, jadi sebelum tanam dilakukan pemasangan umpan dulu,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Pertanian pada Dispertan Kabupaten Kudus, Agus Setiawan, Jumat (11/10/2024).

Untuk saat ini, pihaknya sedang menerjunkan tim untuk meninjau dan mengecek lokasi sawah yang terserang tikus. Pihaknya pun siap jika dimintai bantuan berupa obat tikus jika dibutuhkan petani.

“Upaya kalau sudah terlanjur di makan, kan, tiidak bisa (diantisipasi). Artinya gimana nanti populasi tikus itu bisa dikurangi dengan kita beri obat tikus seperti krelat. Misalkan butuh obat tikus, nanti kami siap membantu,” terangnya.

Agus juga menanggapi keluhan warga, dimana penggunaan obat tikus yang dilakukan oleh petani tidak bisa mengantisipasi secara signifikan. Menurutnya, harus ada kajian khusus terkait masalah yang dihadapi oleh sejumlah petani di Desa Setrokalangan tersebut.

Baca Juga: Dalami Tugas Fungsi dan Kewajiban, Anggota DPRD Kabupaten Kudus Ikuti Orientasi di Surakarta

“Harus di kaji dengan teknis, tidak bisa bahasa petani itu dijadikan rujukan. Karena umpan yang direkomendasikan dari Kementerian tidak terlihat. Artinya tikus yang makan umpan itu tidak kelihatan mati. Kalau petani itu maunya kan langsung terlihat bahwa tikus itu mati,” jelasnya.

Pihaknya menegaskan, terpenting ketika ada kasus seperti itu, langsung dilakukan kajian. Tanaman yang sudah terserang itu tidak bisa lalu dikembalikan normal. Terpenting setelah itu, apa yang harus dilakukan.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER