BETANEWS.ID, PATI – Lilik Nila Efantiana, Psikolog Klinis dari Rumah Sakit Mitra Bangsa Pati berpendapat, bahwa keluarga merupakan pondasi utama untuk mencegah aksi tawuran atau duel yang melibatkan anak dan remaja.
Sebenarnya, untuk pencegahan butuh banyak aspek. Namun, yang paling utama menurutnya adalah peran keluarga.
Baca Juga: Pati Disebut Sangat Menjanjikan Sebagai Kota Sport Bisnis
“Butuh banyak aspek ya. Tapi kita lihat di keluarga dulu, karena ini penting. Yakni bagaimana komunikasinya dengan keluarga sudah baik atau belum, ” ujar Lilik, Kamis (1/8/2024).
Bukan hanya keluarga saja, tapi menurutnya lingkungan sekolah juga beperan penting. Yakni bagaimana seharusnya sekolah memberikan pelatihan tertentu terkait dengan pembentukan karakter siswa yang baik.
Siswa, menurutnya seharusnya diajarkan sejak dini bagaimana memiliki rasa empati kepada orang lain. Sehingga, nantinya aksi tawuran remaja ataupun duel bisa docegah.
Kemudian faktor lainnya sebagai upaya mencegah terjadinya kenakalan remaja, adalah lingkungan.
“Masyarakatnya juga perlu, misalkan kalau ada anak-anak kumpul, apakah memanngil polisi atau gimana, ” ungkapnya.
Lilik pun menyampaikan, bahwa fenomena duel ataupun tawuran yang dilakukan geng remaja, seperti halnya yang terjadi di Kabupaten Pati baru-baru ini, dilihat dari sisi psikologks dikarenakan beberapa faktor.
“Kita bicara remaja ya. Mereka ini mencari jati diri. Mereka dalam tahap, bahwa mereka bukan anak-anak lagi, tapi belum dewasa. Jadi ada kebingunan di sini untuk mencari jati diri,” katanya.
Menurutnya, apa yang dilakukan remaja seperti itu, bisa saja ada kemungkinan kalau ada perasaan ingin mencoba dan adrenalinnya lebih tinggi.
Kemudian dipengaruhi lagi adanya kelompok sosial. Yakni, bagaimana remaja, secara otak atau pemikiran masih belum matang. Begitu pula dengan emosi yang belum stabil atau matang juga.
“Jadi akibatmya nanti seperti apa, jadi istilahnya untuk mempertimbangkan dampaknya nanti ke depan seperti itu belum matang. Karena memang secara pikiran dan emosi belum matang,” ungkapnya.
Baca Juga: Masjid Baiturrahman, Masjid Megah Berarsitektur Gotik Khas Eropa di Soneyan Pati
Kemudian, dari sisi perkembangan sosial, remaja menurutnya ada sisi ikut-ikutan. Ia mencontohkan, ketika remaja melakukan sesuatu, hal itu butuh pengakuan dari kelompok atau orang lain.
Ditambah lagi, pondasi yang utama menurutnya adalah di keluarga. Yakni bagaimana komunikasi dengan keluarga sudah baik atau belum.
Editor: Haikal Rosyada

