BETANEWS.ID,KUDUS – Tiga pria tampak sibuk di halaman rumah semi permanen di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Terlihat seorang di antaranya mengenakan kaus oblong warna hitam sedang merapikan sudut mimbar yang terbuat dari triplek. Di sampingnya, tampak rekannya sedang menghaluskan triplek dengan mesin amplas. Sedangkan di sudut lain, terlihat seorang pria paruh baya sedang memberi sentuhan warna pada sebuah patung. Pria tersebut yakni Saryono (56) yang rela melepas jabatan sebagai manajer di salah satu perusahaan asing dan lebih memilih menekuni menjadi pekerja seni.

Saryono mengisahkan, setelah lulus dari Institut Seni Indonesia jurusan seni lukis, dirinya sempat kerja di perusahaan mebel milik orang asing yang berada di Kudus. Kerjaan itu dilaluinya selama 10 tahun dengan jabatan manajer produksi. Tapi karena merasa jenuh dengan aturan perusahaan, serta jiwa seninya berontak, dia pun memutuskan untuk keluar.
“Sebenarnya untuk urusan gaji sudah lumayan besar. Apalagi jabatan saya di perusahaan tersebut manajer produksi. Tapi jujur selama 10 tahun bekerja saya merasa jenuh dengan aturan perusahaan. Jiwa seni saya juga seolah memanggil agar berkarya lagi. Maka saya putuskan untuk keluar,” ujar pria berambut gondrong kepada betanews.id.
Pria yang berasal dari Prambanan, Yogyakarta itu mengaku pindah ke Kudus pada tahun 2000 dan bekerja di perusahaan mebel milik orang asing. Selain bekerja di mebel, dirinya yang merupakan pelukis bersama teman – teman pekerja seni lainnya di Kudus mendirikan Paku atau Perupa Kudus. Di Paku itulah, dirinya berkenalan dengan Muhammad Hilmy, pemilik Jenang Mubarok saat pameran seni di Gedung DPRD Kudus.
Hingga tiga tahun yang lalu, lanjutnya, dirinya diajak kerja sama Muhammad Hilmy mendesain dan membuat beberapa patung, lukisan, diorama di Museum Jenang Kudus. Menurutnya, kerja sama itu masih berlanjut hingga sekarang. Bahkan, saat ini dirinya sedang mengerjakan pembuatan patung Raden Mas Panji Sosrokartono lengkap dengan perpustakaannya.
Rencananya patung RMP Sosrokartono dan perpustakaannya akan ditempatkan di satu veneu di Museum Jenang Kudus.Saryono pun bercerita singkat tentang sosok patung yang dibuatnya. Sosrokartono merupakan kakak kandung dari RA Kartini. Sosrokartono berjuluk si jenius dari timur karena kecerdasannya. Beliau juga merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke Negeri Belanda.
“Karena terkenal jenius dan suka baca, nanti perpustakaan RMP Sosrokartono terdiri dari patung sang tokoh itu sendiri, serta ada beberapa miniatur buku koleksi Sosrokartono. Di ruangan tersebut, nanti juga ada foto ayah RMP Sosrokartono yakni RM Ario Sosrodiningrat, serta ada foto adiknya yaitu RA Kartini,” jelasnya.
Sedangkan untuk pengerjaannya, tuturnya, hampir selesai. Patung Sosrokartono yang dibuat dari fiberglas itu bisa dibilang sudah jadi. Miniatur buku koleksi Sosrokartono juga sudah hampir lengkap. Yang belum itu pengecatan dinding ruangan serta pengecatan kursi dan mimbar untuk perpustakaan tersebut.
Pria yang sudah dikaruniai dua putra itu mengatakan, sangat bersyukur bisa ikut andil mewujudkan impian pemilik Museum Jenang Mubarok. Agar museum tersebut bisa menjadi ruang edukasi kesenian dan sejarah Kudus bagi siapapun yang berkunjung.
“Karena honor tertinggi bagi pekerja seni ya saat karya kita bisa dinikmati, dan bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.
Editor : Kholistiono

