BETANEWS.ID, PATI – Kasus Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Pati jumlahnya cukup tinggi. Terkait hal itu, berbagai langkah diupayakan untuk mencegah meningkatnya penyakit ini di semua layanan fasilitas kesehatan baik di rumah sakit, puskesmas maupun di klinik.
Koordinator SSR Mentari Sehat Indonesia (MSI) Kabupaten Pati, Yasir Al Imron mengatakan, hingga akhir tahun 2023 lalu, TBC di Pati tembus 1.200 kasus. Sedangkan yang dinyatakan sembuh sekitar 900 orang.
Baca Juga: Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilu di Tingkat Kabupaten Akan Dimulai 29 Februari
“Kita perkuat program di awal sehingga bisa berjalan dengan maksimal. Terus tujuan eliminasi TBC Kabupaten Pati bisa terwujud. Targetnya semua pasien diinvestigasi kontak, baik di rumah sakit, puskesmas maupun klinik,” kata Yasir, Senin (26/2/2024).
Ia katakan, tahun ini pihaknya menargetkan sekitar 500 sekian kasus TBC yang harus diskrining oleh kader. Lalu target terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) mendapatkan 200 orang.
Yasir menyebut, potensi rawan penyebaran TB yaitu di pondok pesantren, Lapas, tempat kumpul-kumpul, pasar, hingga tempat kerja. Menurutnya ketika 1 orang terdiagnosa TB maka yang lain jadi terduga. Karena, penularan TBC sangat cepat melalui droplet.
Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Pati, Joko Leksono mengatakan, pihaknya banyak menemukan kader yang tidak aktif, baik di puskesmas maupun di rumah sakit. Ia menyebut banyak kader di Batangan dan Juwana yang sekarang tidak aktif.
“Kami berharap masyarakat masih mempunyai niat tulus menjadi kader seperti kecamatan lain. Dalam hal ini kader MSI itu sangat membantu dalam pencegahan TBC,” katanya.
Baca Juga: Meski Terakhir Lakukan Rekapitulasi Suara, Kecamatan Cluwak Setor Hasil Lebih Awal ke KPU Pati
Ia menyebut, secara global Indonesia nomor 2, di Jateng masih 5 terbawah. Karena menurutnya, tidak dipungkiri bahwa di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat itu penduduknya padat. Kondisi ini berbeda dengan provinsi lain.
“Sedangkan kasus di Pati lumayan tinggi, dalam setahun kasus meninggal ada ratusan. Sehingga harapannya ini untuk tahun 2025 nanti turun separuhnya,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

