Teater Djarum Pentaskan Kepala Badan, Sindir Kekuasaan yang Membuat Rakyat Bergantung

BETANEWS.ID, KUDUS – Panggung Gedung Budaya Bae, Kabupaten Kudus, Sabtu malam (31/10/2026), berubah menjadi ruang kritik sosial. Melalui lakon Kepala Badan, Teater Djarum menghadirkan gambaran masyarakat yang perlahan kehilangan daya pikir kritis karena terlalu bergantung pada fasilitas dan kemudahan yang diberikan penguasa.

Pertunjukan yang disutradarai Asa Jatmiko tersebut mengangkat kisah seorang wali kota yang menjalankan program untuk menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap dirinya. Berbagai fasilitas, kemudahan, dan pelayanan diberikan. Namun, di balik itu tersimpan upaya untuk mengendalikan kehidupan warga.

“Ini menceritakan tentang program yang dilakukan oleh seorang wali kota, bagaimana agar setiap warga negara itu punya ketergantungan terhadap dia. Diberi semua fasilitas, kemudahan, apa pun, untuk kemudian ketika sudah kecanduan dan sangat bergantung, akan sangat mudah dikendalikan,” ungkap Asa yang sekaligus penulis naskah lakon Kepala Badan.

-Advertisement-

Kritik tersebut kemudian menemukan bentuk paling simbolis ketika sejumlah pemain tampil tanpa kepala. Bukan sekadar menghadirkan adegan surealis, tubuh tanpa kepala menjadi gambaran manusia yang kehilangan ruang untuk berpikir, menyampaikan gagasan, dan merancang masa depan. Dialog para tokoh pun tidak lagi berbicara tentang politik atau rencana, melainkan ungkapan sederhana tentang cinta dan perlindungan.

“Mereka dialognya sudah tanpa menggunakan pikiran lagi. Tidak ada kata-kata politik, tidak ada kata-kata rencana. Hanya ‘aku mencintaimu’, ‘bagaimana kamu melindungi aku’. Hati yang berbicara, tidak ada logika lagi,” jelasnya.

Bagi Asa, gambaran tersebut sekaligus menjadi cara untuk menyampaikan kegelisahan terhadap situasi sosial. Ketika pikiran kritis seolah tidak lagi mendapatkan ruang, ia ingin mengajak masyarakat kembali berbicara melalui hati. Namun, suasana damai yang tercipta dari kehidupan tanpa kepala justru menyimpan sisi mengerikan. Manusia menjadi mudah diatur karena kehilangan kemampuan untuk menentukan sikapnya sendiri.

Inspirasi lakon ini berangkat dari kegelisahan Asa melihat banyak orang terjebak persoalan hidup, mulai dari jeratan pinjaman online hingga berbagai masalah sosial lainnya. Ia mencurigai kondisi tersebut bukan semata-mata persoalan individual, melainkan juga berkaitan dengan sistem yang membuat masyarakat terus disibukkan oleh persoalannya sendiri.

“Orang mudah kena pinjol, mudah kena masalah, dan gampang tersandung persoalan. Saya curiga ini adalah sistem yang memang dibuat semacam itu, agar kita tidak sibuk mengurusi mereka, tetapi sibuk dengan diri kita sendiri,” tuturnya.

Di luar kritik terhadap kekuasaan, Asa juga menegaskan pentingnya keberpihakan seni kepada masyarakat kecil. Baginya, pertunjukan teater tidak harus selalu menawarkan satu jawaban atas persoalan yang diangkat.

“Namun, ada keberanian yang perlu dirawat, yakni keberanian menyuarakan sesuatu yang dianggap penting, terutama ketika menyangkut nasib kelompok yang kurang mendapatkan perhatian,” tuturnya.

Asa mengungkapkan, proses penggarapan lakon Kepala Badan berlangsung sekitar tiga bulan. Mengusung konsep teater tubuh, pementasan ini menuntut kemampuan aktor menyampaikan gagasan melalui gerakan, ekspresi, dan komposisi tubuh, bukan semata-mata dialog.

“Tantangannya, sebagian pemain harus membagi waktu antara pekerjaan pada siang hari dan latihan pada malam hari,” bebernya.

Asa mengakui eksplorasi olah tubuh para pemain masih membutuhkan pengembangan. Meski demikian, ia memilih menjadikan keterbatasan tersebut sebagai bagian dari ekspresi artistik.

Sementara itu, salah seorang penonton, Dita Taqya (22), menilai pementasan Teater Djarum dengan lakon Kepala Badan sangat menarik. Menurutnya, gagasan menghadirkan manusia tanpa kepala menjadi tawaran ekspresi seni yang unik karena membawa sesuatu yang mustahil terjadi dalam kehidupan nyata ke atas panggung.

“Ketika kemungkinan yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata, seperti orang hidup tanpa kepala, itu menjadi tawaran yang menarik untuk ekspresi-ekspresi seni ke depannya,” ujar Dita.

Ia juga menangkap gagasan tentang pandemi sakit kepala yang dihadirkan dalam pertunjukan tersebut. Menurutnya, solusi yang ditawarkan justru berada di luar nalar, bahkan di luar kepala itu sendiri.

“Keunikan itulah yang membuat lakon Kepala Badan meninggalkan kesan tersendiri bagi saya,” tuturnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER