BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 570 peserta dari berbagai daerah mengikuti Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026 di Taman Ria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Minggu (4/10/2026). Ajang lari lintas alam tersebut tidak hanya mengajak peserta menjelajahi lereng Gunung Muria, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan di tengah pengembangan sport tourism.
UTMM 2026 menghadirkan empat kategori lomba, yakni 7K, 15K, 30K, dan 50K. Peserta menyusuri kawasan alam Gunung Muria sekaligus diperkenalkan dengan potensi wisata alam Kabupaten Kudus.
Besarnya jumlah peserta juga membawa tantangan tersendiri, terutama terkait potensi peningkatan timbulan sampah selama kegiatan berlangsung. Karena itu, pengelolaan sampah dan upaya menjaga kelestarian kawasan menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan UTMM.
Pemerintah Kabupaten Kudus berkolaborasi dengan sejumlah dinas terkait dan pihak swasta untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Sinergi tersebut diarahkan agar UTMM dapat berlangsung lebih tertata, aman, inklusif, sekaligus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan UTMM 2026. Semoga kegiatan ini dapat mengangkat destinasi Kudus. Kami juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk Bakti Lingkungan Djarum Foundation,” ujar Bupati Kudus Sam’ani Intakoris.
Menurutnya, pengembangan sport tourism berbasis ramah lingkungan dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi alam sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat. Konsep tersebut dinilai penting agar aktivitas wisata dan olahraga tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.
Baca juga : Resmikan PLTS Atap 416 kWp, RS Mardi Rahayu Perkuat Langkah Menuju Green Hospital
Dalam kolaborasi itu, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui program Kudus ASIK (Apik Resik) turut mengambil bagian dalam menjaga kelestarian kawasan Gunung Muria. Dukungan diberikan melalui penyediaan 11.603 bibit pohon hasil konversi program Stride for Nature.
Program tersebut mengonversi jarak tempuh peserta UTMM menjadi aksi penghijauan. Selain itu, BLDF turut mendukung pengelolaan sampah selama kegiatan sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan kawasan wisata alam Gunung Muria.
“Bagi BLDF, pelestarian lingkungan perlu dilakukan secara holistik dan menyeluruh, mulai dari penghijauan hingga pengelolaan sampah,” ujar Director–Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara.
Ia mengatakan kawasan Muria merupakan habitat berbagai flora dan fauna, termasuk macan tutul Jawa dan elang Jawa. Karena itu, dukungan BLDF terhadap UTMM tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan bibit pohon, tetapi juga pengelolaan sampah melalui program Kudus ASIK.
Sampah yang terkumpul selama UTMM 2026 sebanyak 129,2 kilogram untuk sampah anorganik serta 41,2 kilogram untuk jenis organik. Sampah tersebut sudah dipilah berdasarkan jenisnya.
Langkah tersebut dilakukan agar sampah dapat dikelola sesuai karakteristiknya sekaligus mengurangi material yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Upaya menjaga kebersihan juga melibatkan langsung para peserta melalui stan interaktif BLDF. Peserta dapat menukarkan sampah yang mereka kumpulkan dengan cendera mata melalui program Kudus ASIK.
Abdul Basyir (33), peserta asal Tegal, mengapresiasi konsep pelaksanaan UTMM 2026 yang menurutnya turut memberikan perhatian terhadap lingkungan. Ia menilai fasilitas pemilahan sampah di sejumlah titik membantu peserta menjaga kebersihan selama mengikuti lomba.
“Penyelenggaraan kegiatan dikemas sangat kreatif dan sebagai pelari, di beberapa titik saya juga merasa dimudahkan oleh ketersediaan tempat pilah sampah yang difasilitasi BLDF,” katanya.
Ia juga mengapresiasi adanya stan interaktif yang memungkinkan peserta dan pengunjung menukarkan sampah dengan suvenir. Menurutnya, pendekatan tersebut membuat aktivitas olahraga di alam sekaligus menjadi pengalaman untuk ikut menjaga lingkungan.
Program Kudus ASIK merupakan salah satu inisiatif BLDF dalam mendukung target Zero Waste Zero Emission (ZWZE) 2040 yang menjadi arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Kudus dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Sejak 2022, BLDF mengembangkan pengelolaan sampah organik melalui kolaborasi dengan rumah makan, tempat pelayanan umum, perusahaan, hotel, pasar, dan masyarakat.
Sampah organik yang terkumpul kemudian diolah di pusat pengomposan berkapasitas 100 ton di fasilitas Pusat Pengolahan Organik (PPO) dan Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Djarum Foundation di Kabupaten Kudus.
Hingga kini, jaringan pengumpulan tersebut mencakup 712 titik dengan total sampah organik yang terkumpul mencapai 60.499 ton.
Melalui UTMM 2026, olahraga dan wisata alam dipertemukan dengan pesan tentang keberlanjutan lingkungan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat potensi Gunung Muria sebagai destinasi sport tourism tanpa mengesampingkan kelestarian ekosistemnya.
Editor: Kholistiono

