BETANEWS.ID, KUDUS – Praktik penguatan kemampuan berpikir komputasional murid di Kabupaten Kudus mendapat perhatian dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Program yang telah menjangkau 23.356 murid dan 1.111 guru itu dinilai dapat dikembangkan di daerah lain.
Program tersebut telah berjalan sejak 2023, salah satunya melalui pembelajaran di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Djarum Foundation menginisiasi pelatihan dan pendampingan guru, pembelajaran mendalam bagi murid, serta melibatkan orang tua.
Program kemudian dikembangkan melalui Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI. Kegiatan tersebut dipadukan dengan literasi fisik untuk mengasah kemampuan berpikir sekaligus mendorong murid lebih aktif bergerak.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan program di Kudus sejalan dengan kebijakan Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Program tersebut juga mendukung penguatan literasi, numerasi, serta sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
“Praktik baik untuk pelatihan dan pendampingan, serta festival yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini perlu kita kembangkan dan tingkatkan skalanya ke tempat lain,” kata Gogot usai melihat secara langsung Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI di GOR Jati, Kudus, Minggu (20/9/2026).
Hingga kini, program tersebut telah menjangkau 46 PAUD/RA dan 22 SD/MI. Kegiatan melibatkan 1.111 guru dan 23.356 murid dengan menggunakan kartu pembelajaran, permainan papan, teka-teki, hingga aktivitas gerak.
Baca juga : Rehab Puluhan Gedung Sekolah Belum Mulai, DPRD Kudus Minta Disdikpora Serius Bekerja
Kemampuan murid juga diukur melalui tantangan Bebras dengan soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) untuk mengasah kemampuan berpikir komputasional dan pemecahan masalah. Rata-rata skor murid tercatat meningkat dari 34,52 menjadi 88,34 setelah mengikuti rangkaian pembelajaran.
Berpikir komputasional tidak sekadar mengajarkan coding atau penggunaan komputer. Keterampilan ini melatih murid memecah masalah, mengenali pola, memilih informasi yang relevan, dan menyusun langkah penyelesaian secara logis.
Penerapannya dilakukan melalui aktivitas yang dekat dengan keseharian murid. Di SD 3 Kalirejo, misalnya, guru mengajak murid menyusun rute paling efisien untuk berangkat ke sekolah.
Di SD Muhammadiyah Birrul Walidain, konsep tersebut diterapkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Murid mengurai masalah, menemukan pola, dan mengelompokkan informasi saat mempelajari sistem pernapasan.
Sementara itu, di SD 1 Barongan, guru menganalisis pola keterlambatan siswa untuk menemukan kemungkinan penyebab dan mencari solusi. Aktivitas tersebut kemudian dipadukan dengan literasi fisik.
Langkah itu juga berkaitan dengan hasil survei keterampilan sosial emosional OECD di Kabupaten Kudus pada 2023. Survei tersebut menunjukkan 55 persen murid berusia 15 tahun memiliki pola perilaku tidak sehat, antara lain jarang berolahraga serta tidak mengonsumsi buah dan sayur hampir setiap hari.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus Anggun Nugroho, mewakili Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, mengatakan kemampuan berpikir logis perlu dibangun sejak dini. Menurutnya, pembiasaan tersebut menjadi bekal murid dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Berpikir komputasional bukan sekadar tentang coding atau mengenal komputer, tetapi cara berpikir yang mengajarkan anak untuk memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, melakukan abstraksi, dan menyusun langkah-langkah yang logis untuk menyelesaikan persoalan,” kata Anggun.
Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa mengatakan berpikir komputasional merupakan keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini. Kemampuan tersebut diharapkan membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, serta menghadapi berbagai tantangan dengan lebih tangguh dan percaya diri.
“Kami melihat berpikir komputasional sebagai keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dengan tangguh serta percaya diri,” ujar Marcella.
Djarum Foundation berkomitmen melanjutkan dan memperluas program tersebut ke jenjang pendidikan berikutnya. Bersama pemerintah, sekolah, guru, dan mitra lainnya, praktik yang telah dikembangkan di Kudus akan diarahkan agar menjangkau lebih banyak murid.
Editor: Kholistiono

