Rektor UMKU: Angka Harapan Hidup Naik, Penyakit Kronis di Indonesia Justru Makin Banyak

BETANEWS.ID, KUDUS – Kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dinilai masih menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan di Indonesia. Rendahnya kesadaran tersebut berdampak pada tingginya angka penyakit tidak menular seperti diabetes melitus (DM), hipertensi, hingga penyakit jantung yang terus meningkat setiap tahun.

Hal itu disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU), Edy Soesanto. Menurutnya, persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan layanan pengobatan, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku dan tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan.

“Kalau di Indonesia, masyarakatnya sangat kompleks. Salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah perilaku hidup sehat yang belum optimal. Kesadaran masyarakat masih perlu ditingkatkan,” ujarnya.

-Advertisement-

Edy menjelaskan, perubahan perilaku masyarakat membutuhkan waktu yang panjang. Berbagai upaya edukasi dan penyuluhan sebenarnya terus dilakukan, namun hasilnya tidak bisa dilihat secara instan.

Ia mencontohkan persoalan kebersihan lingkungan yang hingga kini masih menjadi tantangan. Meski sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan telah dilakukan berulang kali, praktik tersebut masih sering ditemukan di masyarakat.

Baca juga : UMKU Wisuda 553 Mahasiswa, Rektor Pesan Lulusan Siap Hadapi Perubahan Zaman

Menurutnya, kondisi itu juga berpengaruh terhadap munculnya berbagai penyakit, baik penyakit menular maupun tidak menular.

Di sisi lain, peningkatan kualitas layanan kesehatan membuat angka harapan hidup masyarakat Indonesia terus meningkat. Namun, peningkatan usia harapan hidup tersebut juga diikuti dengan bertambahnya jumlah penderita penyakit kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang.

“Kasus diabetes, hipertensi, penyakit jantung, hingga gagal ginjal terus meningkat. Penyakit-penyakit ini umumnya membutuhkan pengobatan dan pengawasan seumur hidup sehingga menjadi beban tersendiri bagi sistem kesehatan,” jelasnya.

Edy menilai, pembiayaan pengobatan masyarakat melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tentu akan memengaruhi beban anggaran negara. Oleh karena itu, langkah pencegahan perlu mendapat perhatian yang lebih serius.

Menurutnya, pendekatan promotif dan preventif sebenarnya jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan hanya mengandalkan layanan kuratif atau pengobatan.

“Kalau kuratif memang hasilnya langsung terlihat, tetapi membutuhkan biaya besar untuk obat, alat kesehatan, dan layanan medis. Sementara upaya promotif dan preventif lebih murah, hanya saja proses evaluasinya tidak mudah karena berkaitan dengan perubahan perilaku masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, perubahan gaya hidup menjadi salah satu kunci utama untuk menekan angka penyakit tidak menular di masa mendatang. Salah satu fenomena yang saat ini perlu mendapat perhatian adalah kecenderungan masyarakat, khususnya generasi muda, yang semakin minim aktivitas fisik.

Menurutnya, kemajuan teknologi memberikan banyak kemudahan, namun di sisi lain juga membuat sebagian masyarakat menjadi kurang bergerak atau malas gerak (mager) untuk berolahraga.

“Anak-anak sekarang sangat dekat dengan teknologi. Itu hal yang baik, tetapi aktivitas fisiknya juga harus tetap diperhatikan. Kebiasaan kurang bergerak harus mulai diubah,” ujarnya.

Edy mengingatkan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini. Ia berharap masyarakat mulai membiasakan aktivitas fisik secara rutin, menjaga pola makan, serta meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pencegahan penyakit.

“Perubahan perilaku memang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Namun, jika dimulai dari sekarang, manfaatnya akan sangat besar bagi kesehatan masyarakat di masa depan,” tandasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER